Minggu, 12 Februari 2017

(SongFic) Missing You Today - Davichi

(SongFic) Missing You Today - Davichi

Note : Hari ini bingung banget mau nulis based on song apa. Alhasil setelah mencari-cari lagu jadilah aku memilih Missing You Today by Davichi kebetulan lagi kangen banget juga sama seseorang. Btw, lagunya enak banget, selalu bikin baper. Sok di play biar lebih ngena.

Let's reading!

- Itu karena aku sangat merindukanmu hari ini. Apakah kau baik-baik saja, kau masih tetap sama? Jangan khawatir, aku hanya sedikit tidak bisa melupakanmu -

Nana tampak santai mengenakan kaos dan celana pendek selututnya. Ia menuruni anak tangga masih dengan sesekali menguap. Minggu yang cerah dan ia baru bangun sekitar pukul 9 pagi.

"Na, Na. Gimana mau punya pacar? Anak gadis jam segini baru bangun," Mama yang melihat penampakannya langsung menggegeleng-gelengkan kepalanya.

Nana hanya mengerucutkan bibirnya. Tak mau ambil pusing.

"Mama mau kemana?" tanya Nana heran saat melihat Mamanya sudah tampil rapi.

"Kamu tahu tante Dila? Temen Mama yang baru pindah dari Surabaya, dia ngadain reunian gitu deh ngundang temen-temen geng Mama," jawab Mama.

Nana mencibir. Ternyata Mamanya juga punya geng. Ckck!

"Kalau mau makan makan aja, Mama udah masak kok, Mama pergi dulu yah! Assalamu'alaikum!" pamit Mama.

"Waalaikumsalam," balas Nana.

Ia membuat segelas susu putih dan mengambil roti tawar yang segera diolesinya dengan selai coklat. Lalu menikmatinya dengan nyaman sambil menonton televisi. Gadis itu membuka handphonenya dan memilih untuk berselancar di Path.

Genta Dirgantara Listening Say You Won't Let Go By James Arthur With Titania Intani.

Shit! Pagi-pagi udah ada aja yang bikin hati panas. Gerutu Nana dalam hatinya. Ternyata keputusannya melepaskan Genta merupakan hal yang benar sekaligus salah. Benar, karena akhirnya Genta resmi berpacaran dengan Tita dan salah, karena nyatanya sampai saat ini Nana belum sepenuhnya merelakan kenyataan itu.

Hell to admit it, but I miss him so much. Nana meradang dalam hatinya.

***

Nana berkacak pinggang. Ia menatap penampilan kamarnya yang sungguh jauh dari penampilan kamar anak gadis pada umumnya. Sangat berantakan. Seperti kapal pecah. Huh, ia sendiri bingung apa saja yang sudah ia lakukan di kamar ini sampai menciptakan keadaan sebegitu mengerikannya.

"Okey semangat Nana!" serunya keras.

Ia harus merapikan kamarnya. Pertama-tama ia merapikan tempat tidurnya. Mengganti seprai yang sudah ia lupa kapan terakhir kali diganti. Merapikan meja belajarnya yang dipenuhi oleh buku dan peralatan belajarnya. Menyusun kaset-kaset drama Korea koleksinya. Gadis itu tersenyum puas saat melihat keadaan kamarnya yang sudah jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya.

"Okey, tinggal nyapu dan ngepel."

Saat ia sedang menyapu kegiatannya terhenti ketika ia melihat sebuah kotak yang tersimpan di sudut lemari kamarnya. Gadis itu menghembuskan nafas pelan. Menatap benda itu dengan nanar. Awalnya ia berniat untuk mengacuhkannya, namun nyatanya ia tidak bisa.

Iapun mengambil kotak itu. Duduk di atas lantai, bersender pada kasurnya. Ia menatap kotak itu lama hingga akhirnya membukanya perlahan. Segala benda penuh kenangan ada disana. Kenangannya dengan seseorang yang pernah amat dicintainya. Ya, Genta.

Nana tersenyum saat melihat 2 buah tiket nonton. Ia menyimpannya sebagai bukti kencan di bioskopnya bersama Genta. Lalu ia beralih pada bekas bungkus ice cream. Lagi senyuman manis terbit di wajahnya. Ice Cream ini yang Genta belikan untuknya, saat ia ngambek.

"Ice cream terenak yang pernah gue makan," gumamnya miris. Sayang, tidak pernah ada ice cream - ice cream selanjutnya.

Ia menyusuri benda-benda disana satu persatu. Menyelami setiap kenangan yang pernah ia lewati bersama Genta. Membuatnya semakin merindukan Genta lagi dan lagi. Sangat, tak terhingga.

Ia tak tahu tak seharusnya ia merasakan perasaan ini karena bagaimanapun Genta sudah menjadi milik orang lain, karenanya. Ia sendiri yang telah melepaskan lelaki itu saat sudah dalam genggaman tangannya jadi kenapa ia harus begini? Ah memikirkan hal ini hanya membuat dadanya terasa sesak.

Tersisa satu benda yang belum ia pegang. Sebuah helm. Nana menatap helm itu lekat lalu mengangkatnya perlahan. Benda yang paling besar, sama besarnya dengan luka yang ada bersamanya. Ya, benda terakhir yang ia minta dari Genta. Benda yang sejauh ini menjadi topeng untuknya, benda yang melindunginya dari rasa simpati, benda yang dijadikannya sebagai tempat untuk menyembunyikan segala tangis dan lukanya.

Seperti sekarang. Nana mengambil benda itu lalu memakainya. Tepat setelah itu airmatanya jatuh satu persatu. Lihat bahkan sampai saat ini Genta tetap menjadi alasan ia tertawa dan menangis.

"Kak, enggak apa-apa kan? Entah kenapa hari ini gue kangen banget sama lo kak. Rindu..." Lirih Nana entah pada siapa.

Ia sudah terlalu merindu sampai tak ingin bertemu. Karena baginya bertemu saja tak akan cukup untuk mengobati rindu yang telah ada terlalu lama, sampai hari ini.

END

#30DWC Jilid 4 hari ke 12

Sabtu, 11 Februari 2017

(SongFic) Good Day - IU

(SongFic) Good Day - IU

Note : Sebelum baca jangan lupa di play dulu lagu Good Day punya IU-nya. Biar lebih ngena gitu fictionnya. Apalagi suaranya IU adem-adem gimana gitu, yakin deh ngenakin ke telinga hihi.
Let's reading guys!

Mengapa langit semakin biru? 
Mengapa angin semilir hari ini? 

Anindya tersenyum menatap langit yang begitu indah pagi ini. Gadis itu menutup matanya, membuka tangannya lebar-lebar dan menghirup nafas kencang. Senyuman manis semakin mengembang dibibirnya saat ia merasakan hembusan angin menyentuh kulitnya dengan lembut.

"Ah, segarnya...," gumam Anindya.

Gadis itu kembali membuka matanya dan mulai menikmati pemandangan indah yang terbentang di hadapannya. Melalui balkon kamarnya yang berada di labtai 2 ini ia bisa menikmati pemandangan daerahnya yang masih asri. Berbeda jauh dengan suasana kota, tempatnya masih terbilang desa yang belum terjamah polusi.
"Anin cepet turun, bantu Bunda!"

Gadis itu terhenyak sesaat mendengar panggilan Bundanya. Masih dengan senyuman di wajahnya ia menutup jendela kamarnya. Lalu melangkahkan kakinya menuruni anak tangga. Sampai di lantai bawah ia menemukan Bundanya dengan 2 orang pegawai tengah sibuk memasak. Serta 1 orang yang tengah merapikan meja dan kursi yang tersusun disana.

"Pagi semua!" sapanya dengan riang. Tanpa menunggu balasan ia melangkah menuju pintu yang terbuat dari kaca. Lagi senyuman manis mengembang dibibirnya, ia menatap kertas yang menggantung di atas pintu bertuliskan 'Open' dan langsung membalikannya.


Bersikap seolah ku tak tahu
Seolah kutak mendengar apapun, seolah aku menghapusnya

"Selamat pagi!" Anindya mengangkat kepalanya menatap seseorang yang baru saja datang menghampirinya. Ia sempat tertegun beberapa saat menatap lelaki yang saat ini tengah tersenyum kepadanya. Hingga akhirnya gadis itu mengerjapkan matanya, berusaha bersikap normal.

"Selamat pagi Anindya! Kau sangat ceria pagi ini!" sapa lelaki tersenyum. Anindya tersenyum.

"Tentu saja, ini hari yang sangat bagus sayang sekali jika dilewatkan dengab wajah bersedih," jelasnya. "Jadi secangkir kopi dan roti panggang, Kenzo?" tutur Anindya seraya menyebut nama lelaki dihadapannya ini dengan lugas.

"Kau salah!" cetus Kenzo.

Anindya mengernyit bingung ia hapal betul menu sarapan pelanggannya selama 2 minggu belakangan ini. "Bagaimana bisa?" tanyanya heran.

"Pagi ini aku ingin menikmati secangkir kopi ditemani puding yang manis!" serunya sambil tersenyum miring.

"Baiklah, kau bisa menunggu sebentar ditempatmu!" seru Anin pada akhirnya.

"Oke cantik!" seru Kenzo.

Anindya merasakan pipinya memanas mendengar pujian Kenzo, gadis itu memperhatikan lelaki itu sampai duduk di tempatnya. Meja paling sudut menghadap kaca. Tempat favoritnya yang juga menjadi tempat favorit Anin karena gadis itu bisa menatap Kenzo dengan leluasa dari tempatnya sekarang.


Bisakah kita mulai membicarakan sesuatu yang lain?
Haruskah kita berciuman agar tak ada yang dikatakan?

"Secangkir kopi dan sebuah puding untukmu Tuan!" seru Anindya sambil tersenyum jenaka. Ia meletakan pesanan Kenzo di mejanya.

"Terima kasih, akan lebih menyenangkan jika kau mau duduk disini dan menemaniku sarapan," seru Kenzo, pandangannya merajuk.

Anindya menatap sekeliling. Hanya ada beberapa pelanggan saja di kedainya, itupun sudah mendapat pelayanan. Jadi setelah memastikan kedainya masih sepi pagi ini, ia pun menarik kursi di depan Kenzo dan duduk di sana. Membuat senyuman puas terkembang di wajah Kenzo.

"Good girl!" serunya.

Anindya mengerucutkan bibirnya. "Dasar bad boy!" serunya. Kenzo tertawa keras. "Benhenti tertawa Ken!" seru Anin pipinya sudah memerah karena malu ditertawakan sebegitunya.

"Maaf, tapi kau sungguh menggemaskan!" seru Kenzo seraya mengacak rambut Anin pelab. Anin tertegun dibuatnya. Hatinya berdebar dengan sangat kencang.

"Jadi mau kemana kau hari ini?" tanya Anindya pada akhirnya berusaha untuk mengalihkan pembicaraan dan menormalkan detak jantungnya.

Kenzo meneguk kopinya sesaat sebelum akhirnya menjawab, "perkebunan teh."

"Cocok sekali! Aku yakin kau bisa mendapatkan foto yang sangat bagus disana, pemandangannya indah sekali," ujar Anin menerawang. Kenzo mengangguk-ngangguk paham sambil terus menikmati pudingnya. "Lalu setelah itu kemana lagi?"

Kenzo terdiam beberapa saat sebelum akhirnya bibirnya berucap, "pulang. Kembali ke kotaku."

Anindya tertegun dibuatnya. Terkejut bukan main.


Mataku dipenuhi air mata, jadi ku angkat kepalaku
Aku tersenyum sedikit agar mereka tak jatuh
Mengapa kau seperti ini padaku? Apa yang kau katakan?

"Pulang?"

Kenzo pulang. "Tentu saja pulang. Apalagi?"

"Fotomu?" tanya Anindya bingung.

"Sudah selesai, aku rasa aku sudah cukup mendapatkan foto yang bagus untuk bisa ku pamerkan nanti," jelas Kenzo sambil meneguk kopinya lagi.

"Kau sungguh harus pulang secepat ini?" tanya Anindya dengan nafas tercekat. Entah bagaimana ia merasa tak rela harus melepas kepergian Kenzo. Orang yang dua minggu ini telah menjadi pelanggan di kedainya. Pelanggan yang memikat hatinya.

"Ya, aku harus segera kembali ke kotaku, pamerannya akan di gelar seminggu lagi jadi aku harus segera mempersiapkan segalanya."

Anindya terdiam mendengar penuturan Kenzo. Itu berarti sudah menjadi keputusan mutlak bagi lelaki itu untuk meninggalkan dirinya. Ah tidak, meninggalkan desanya.

Anindya merasakan matanya memanas. Ia tahu butir-butir bening telah berkumpul disana. Untuk itu segera mengangkatnya, agar air mata itu tidak jatuh. Gadis itu coba menarik kedua sudut bibirnya ke atas.

"Baguslah, pelanggan rewelku akan menghilang satu."


Semua yang kita bicarakan menguap ke langit
Kata yang tak pernah kuucapkan
Kata yang tak kutahu kukatakan sembari menangis
Aku menyukaimu, kak? Apa yang harus kulakukan?

"Apa kau bilang?" Kenzo menyipitkan matanya.

"Aku tidak ingin kau pergi," ucapnya namun kalimat itu hanya tertahan di tenggorokannya. "Satu pelanggan rewelku akan hilang!" akhirnya hanya itu yang bisa keluar dari mulut Anin.

"Dasar jahat!" cibir Kenzo.

"Kau yang jahat!" cetus Anin.

"Aku? Jahat?"

"Ya, kau memang jahat."

"Jahat kenapa?" Kenzo menatap Anin selidik. Anin menjauhkan kepalanya.

"Tidak, tidak kenapa-kenapa."

"Dasar aneh!" Kenzo kembali terduduk santai.

"Aku tidak aneh!" bantah Anin. "Aku hanya...," Anindya bingung harus mengatakan apa, ia menggigit bibirnya gugup.

"Hanya apa?" Kenzo kembali menyipitkan matanya. Anindya semakin dibuatnya gugup. Haruskah ia mengatakan perasaannya sebenarnya?

"Aku hanya ingin di foto olehmu."


Apakah potongan rambutku salah?
Apakah aku memakai baju yang salah?
Kumasih bersikap seolah tak tahu
Seolah ku tak ingat
Haruskah aku bersikap seakan tak ada yang terjadi?
Haruskah aku berkata ayo berkencan

"Foto?" tanya Kenzo aneh. Sebelum akhirnya tawa gadis itu meledak seketika.

Anindya mengusap kedua tangannya gelisah. Ia sendiri bingung bagaimana bisa kalimat memalukan itu keluar dari mulutnya.

"Ya, apa kau tidak ingin menyimpan wajah cantikku ini?" tanya Anin pada akhirnya mencoba menutupi kegugupannya.

"Cantik?" Kenzo mengangkat sebelah halisnya menatap Anindya. Menilai.

Anindya dibuatnya kesal. Bagaimana bisa lelaki itu bertingkah seperti itu? Sungguh sangat menyebalkan! Memangnya apa yang salah dengan pebampilannya? Apakah untuk di foto di kameranya saja Anin tak pantas?

"Kau sungguh menyebalkan!" cetus Anin. Ia bangkit berdiri melangkah meninggalkan Kenzo sendirian. Berjalan menuju tempat ia seharusnya berada.


Jangan katakan hal sedih itu
Sembari menatapku seperti ini
Apakah aku kenak kanakan atau sedikit lambat?
Aku tak bisa percaya

"Anindya ayolah aku hanya bercanda..." Kenzo berjalan mengikuti langkah Anin. Kebetulan sekali sarapannya sudah habis.

Anin hanya terdiam. Ia kembali menuju tempatnya, berdiri dibelakang etalase kaca yang berisi cake serta roti.

"Maafkan aku okey, maaf," ucap Kenzo merasa bersalah. "Ini hari terakhirku disini, bagaimana bisa kau marah padaku?" tanyanya cemberut.

Anindya terdiam. Mengingat hal itu hanya membuat ia merasa sedih.

"Sudahlah pergi sana, aku banyak pelanggan!" usir Anin memasang wajah datarnya.

"Mana?" tanya Kenzo seraya menatap sekeliling namun tak ada tanda-tanda orabg yang akan menghampiri Anin. Sial!

"Sudahlah, aku bisa di marahi Bunda kalau kau terus mengajakku mengobrol," ujar Anin akhirnya.

"Kalau begitu jangan marah lagi padaku bagaimana?" tawar Kenzo.

"Aku tidak marah," elak Anin.

"Pembohong!" cibir Kenzo. Anindya hanya diam. "Begini saja sore nanti aku menunggumu di perkebunan teh, kalau kau tidak marah kau harus datang!" ujar Kenzo. Tanpa menunggu balasan Anin ia berjalan menujur kasir. Membayar makanannya.

"Sampai jumpa!" pamitnya sambil tersenyum.

Anindya terdiam menatap punggung tegap itu menjauh. Hingga senyuman manis terbit diwajahnya kemudian. Sore hari. Perkebunan teh. Anindya memastikan akan datang.


Walau kumenangis, aku tersenyum
Kuhalangi jalanmu dan tersenyum lebar
Mengapa aku jadi seperti ini ?
Apa aku tak punya harga diri?
Aku melipat harga diriku dan melemparnya ke langit

Anindya melangkah dengan ringan menyusuri perkebunan teh di sepanjang jalan. Gadis itu tampak percaya diri dengan dress putih selututnya. Santai dan manis. Ia telah menekadkan dalam hatinya untuk mengatakan segala perasaannya kepada Kenzo sebelum lelaki itu pergi meninggalkannya. Mengucapkan kalimat yang sejak pertama bertemu sudah hadir di dalam hatinya.

Anin menghentikan langkahnya sejenak. Pandangannya berkeliling. Menatap ke segala penjuru. Mencoba menemukan kehadiran orang yang sejak tadi ada di dalam pikirannya.

"Anindya! Kemari!"

Anindya yang merasakan namanya di panggil menoleh ke sumber suara. Gadis itu tersenyum dan segera melambaikan tangannya saat melihat Kenzo ada di bagian atas perkebunan teh.

Ia melangkahkan kakinya mendekat pada Kenzo. Semakin dekat kegugupannya semakin bertambah. Namun bagaimanapun juga ia harus memberanikan dirinya. Mengungkapkan segalanya. Karena bagaimanapun ia tidak ingin menyesal. Ia tidak ingin berakhir dengan cinta yang terpendam. Ia ingin Kenzo mengetahui isi hatinya. Setelah itu terserah. Biar ia yang memutuskan yang penting ia harus membuat hatinya merasa lega.

Kata yang tak pernah kuucapkan
Kata yang mungkin tak bisa lagi kuucapkan
Aku menyukaimu, kak, aduuhhh… satu dua
Aku didalam mimpi

Anindya tersenyum lebar saat beberapa langkah lagi ia akan sampai di hadapan Kenzo. Meskipun gadis itu sedikit heran saat menemukan ada orang lain selain lelaki itu disana. Namun ia tak mau ambil pusing. Mungkin saja orang itu hanya pengunjung perkebunan juga sama seperti Kenzo, juga dirinya.

"Hai!" sapa Anindya. "Lihat, aku tidak marah bukan?" serunya sambil tersenyum.

Kenzo tertawa. "Kau memang good girl!"

Anin hanya tersenyum, hatinya bergemuruh. Detak jantungnya berdebar gak karuan.

"Oh ya Ken, aku ingin mengatakan sesuatu," Anin akhirnya memberanikan diri untuk berucap. Ya, ia harus mengatakannya. Harus. Sebelum semuanya terlambat.

"Hmm, tunggu dulu sebelum kau mengucapkan sesuatu aku ingin memperkenalkanmu pada seseorang," ucap Kenzo menahan permintaan Anindya. Anindya menatapnya heran. Perasaannya mulai tak enak saat Kenzo memanggil gadis yang sejak tadi juga ada disana. Sibuk dengan kameranya.

"Anindya perkenalkan ini Karina, kekasihku."

Anindya terdiam. Ia merasakan jantungnya seolah berhenti berdetak. Waktu berhenti berputar. Satu hal yang ia tahu hari yang indah tak selalu menjadi saat yang indah.

END

#30DWC Jilid 4 Hari ke 11


Jumat, 10 Februari 2017

(SongFic) We Were In Love

(SongFic) We Were In Love - T Ara Ft Davichi

Note : Sebelum baca di play dulu lagu We Were In Love dari T-Ara Ft Davichi. Lagunya enak banhet. Galau-galau gimana gitu, apalgi liat MV-nya berasa banget sedihnya, menghayati banget pokoknya.
Let's Reading!

- Jika aku harus memilih diantara kamu dan dunia. Bahkan jika semuanya diambil dariku, jika itu kamu tak apa hari atau malam aku haus akan cinta janji tak layakku untuk melupakanmu membuatku menangis lagi, dapatkah kamu mendengarku? Satu hal yang aku inginkan darimu yaitu kamu. Tanpamu, aku tak dapat melakukan apa-apa jika kamu mendengar lagu ini, kumohon kembalilah, kembalilah... -

Detak jam terus berputar. Malam semakin larut namun aku sama sekali tak ada niatan untuk meninggalkan balkon kamarku ini. Aku merapatlan sweater yang semgaja kupakai, mengenyahkan hawa dingin akibat hembusan angin yang semakin menusuk. Namun hal ini sama sekali tak menjadi alasan untukku beranjak. Aku masih ingin disini. Berdiri didepan balkon. Menatap bintang yang satu persatu mulai meninggalkan langit. Membuat malam semakin gelap.

Aku menatap bintang itu nanar. Kenapa semuanya perlahan-lahan menghilang?

Aku menghembuskan nafas lelah. Menatap lurus langit yang menghitam. Sementara itu pikiranku menerawang jauh. Mengingat seseorang yang terus berputar di dalam otakku. Entah sejak kapan.

"Aku rindu kamu Kai," bisikku pelan. Berharap setidaknya angin yang berhembus dapat membawa kalimat tersebut pada Kaisar. Atau bintang-bintang bisa bersinar lebih terang di tempat Kaisar berada. Agar lelaki itu tahu bahwa aku disini sangat amat merindukannya. Selalu.

"Aku juga rindu kamu, Ta."

Aku terdiam mendengar suara yang membalas ucapanku. Kai. Ah, aku memukul kepalaku sendiri. Lalu tersenyum. Ya, Kai selalu bilang saat aku merindukannya, maka katakanlah. Karena dia meski berada dibelahan dunia lain pasti akan tetap mendengarnya dan membalas ucapanku. Seperti sekarang. Meski aku tidak tahu dia ada dimana. Aku dapat mendengar suaranya. Bukan dengan telingaku, tapi dengan hatiku.

"Huft!" kuhembuskan nafas pelan merasakan udara yang semakin dingin. Sepertinya aku memang harus segera masuk ke dalam kamar.

"Krystal!"

Baru beberapa langkah, aku mendengar seruan memanggil namaku. Kaisar. Aku menggelengkan kepalaku sepertinya aku sudah gila. Aku pun berniat melanjutkan langkahku.

"Krystal aku disini!" lagi aku mendengar itu. Sedikit lebih keras dibandingkan tadi. Bagaimana bisa?

Aku berbalik kembali menuju balkon. Dan shit! Kaisar ada disana di bawah balkon kamarku sedang berusaha menaiki memanjat tembok untuk menuju ke tempatku.

"Kai!" pekikku tercekat tanpa suara.

Lelaki itu hanya tersenyum. Aku pun tak tahan untuk tak membalas senyumannya. Hingga akhirnya dia berhasil sampai dihadapanku dengan nafas terengah. Keringat berucur dari dahinya. Rambut hitam legamnya tampak berantakan. Begitu juga dengan penampilan yang tampak lebih kacau dibandingkan biasanya. Sungguh, aku tak tega melihat penampilannya. Hingga lebih memilih untuk menghambur ke dalam pelukannya. Merasakan kehangatan yang selama ini selalu menjadi tempat ternyamanku.

"Aku merindukanmu Kai!" seruku dan lebih mempererat pelukanku padanya. Menyimpan kepalaku di dadanya.

"Kau tahu, aku jauh lebih lebih merindukanmu Krystal!"

Aku tersenyum mendengar balasannya. Terlebih saat suara tegas namun lembut itu mengeja namaku dengan lugas.

Aku mendongakan kepalaku. Menatap wajah tampannya tanpa berniat melepaskan pelukanku. Kai tersenyum. Senyuman menawan seperti biasanya. Ya meskipun ada kantung tebal hitam dibawah matanya dan raut kelelahan. Namun ia tetaplah Kai-ku yang berkharisma. Kutegaskan, lelaki ini Kaisar-ku.

"Bagaimana bisa kau ada disini?" tanyaku menatap mata hitamnya lekat.

"Tentu bisa, karenamu aku bisa melakukan apapun," ucap Kai seraya tersenyum menatapku. Aku tersentuh mendengar ucapannya. Dia selalu bisa membuatku merasa tersanjung.

"Bagaimana jika ketahuan?" tanyaku mengeluarkan ketakutan yang sejak tadi ada diantara rasa senangku. Aku menatapnya khawatir, namun dia tetap tersenyum tenang.

"Tak apa, toh mungkin ini terakhir kalinya kita bertemu."

Deg!

Aku tertegun mendengar ucapan Kaisar. Senyuman manis yang sejak tadi hadir karena kedatangannya sirna sudah. Aku menatapnya nanar lalu bergerak mundur. Melepaskan diri dari pelukannya. Kaisar menatapku bingung dan penuh tanya.

"Kenapa?"

"Aku benci mendengar kata terakhir dari mulutmu. Bagaimana bisa kau mengucapkannya?" lirihku. Aku menyentuu dadaku. Disana entah dibagian sudut yang mana. Ada sakit yang mendera akibat luka yang semakin menganga lebar.

Kaisar mendekat kepadaku, dan aku bergerak mundur. Begitu seterusnya hingga pada akhirnya. Langkahku terhenti membentur pintu kamar. Aku hanya bisa terdiam saat akhirnya Kaisar menggenggam kedua tanganku. Aku menunduk menghindari tatapan matanya.

"Bukan begitu maksudku. Kau tentu mengerti bagaimana hidup kita sekarang," aku hanya terdiam mendengar setiap penuturan Kaisar. "Kita berbeda."

Kalimat terakhir yang keluar dari mulut Kaisar menghentakku. Menyadarkanku. Menjatuhkan hingga ke dasar. Tak bertepi. Terhempas jauh dari anganku. Hingga aku harus kembali menghadapi kenyataan yang ada. Kita berbeda. Aku dan Kaisar berbeda.

"Aku tahu," aku mengakui hal tersebut pada akhirnya. "Tapi bukankah seharusnya itu tak berarti apa-apa untuk kita?" ungkapku kemudian. Aku menatap matanya memohon. Berharap ia bisa menepiskan rasa takut akibat perbedaan yang ada.

Kaisar menghembuskan nafasnya dengan berat.

"Aku mengerti, tapi kau tahukan sebesar apa perbedaan kita?"

Aku tahu. Aku sangat hapal bagaimana perbedaan antara aku dan dirinya. Namun tak bisakah dia tak membahasnya sekarang?

"Kau adalah seorang Puteri sedangkan aku..."

"Kau adalah seorang selebriti begitu bukan?" aku memotong kalimatnya dengan cepat. Menatapnya tajam. Aku tahu Ayah-ku adalah salah satu orang yang berpengaruh di negara-ku ini. Orang yang memiliki kekuasaan yang besar. Keluargaku masuk ke dalam daftar 10 keluarga kaya di Indonesia. Kaisar? Dia seorang selebriti yang namanya sedang naik daun, idola yang banyak diagung-agungkan oleh fansnya. Jadi cukup jelaskan perbedaan kita?

Kaisar menghela nafas pelan, aku tahu kalimatku telah membuatnya kesal namun ia berusaha meredam emosinya.

"Kau tahukan bagaimana Ayahmu memandangku?"

"Kai..."

"Dia sangat membenciku, dia tidak pernah menginginkan aku hadir di dalam hidupmu. Sampai kapanpun ia tidak akan pernah mengijinkannya."

Aku terdiam membenarkan ucapan Kaisar dalam hati. Mengingat hal itu hanya membuat hatiku terasa sakit. Sesak. Mataku memanas.

"Tapi aku mencintaimu," kalimat itu lolos dari mulutku bersamaan dengan bulir air mata yang mulai jatuh.

Kaisar menyentuh daguku. Mengangkat wajahku. Lalu tangan halusnya menyapu air mataku.

"Aku juga sangat mencintaimu, jadi jangan menangis," ucapnya lembut. Namun tak cukup untuk menghentikan tangisku.

"Lalu bagaimana bisa kau berpikir ini pertemuan terakhir kita? Bagaimana bisa kau berniat meninggalkanku?" aku menatapnya nanar menuntut jawaban.

Kaisar menggelengkan kepalanya. Aku melihat matanya yang sendu. "Kau tidak salah? Bukankah kqu yang akan meninggalkanku?"

Lagi. Kaisar berhasil membuat hatiku tertusuk. Kalimatnya, pandangannya membuat rasa bersalah menjalar dalam hatiku. Ia benar bagaimana bisa aku menghakiminya sementara akulah orang yang akan meninggalkannya? Tidak, aku tidak pernah berniat sedikit untuk pergi dari hidupnya. Ayahlah yang menagatur segalanya. Dengan alasan pendidikan Ayah akan mengirimku ke luar negeri. Meskipun aku tahu benar alasan sebenarnya bukan itu. Melainkan hubunganku dengan Kaisar.

"Kai..."

"Sudahlah tidak apa-apa. Aku sudah disini sekarang. Aku hanya ingin disini bersamamu, karena aku tidak pernah tahu kapan kita akan bertemu lagi."

"Aku tidak ingin berpisah denganmu Kai, tetaplah bersamaku. Kita bisa menjalaninya, kita bisa melewati semua ini," ucapku berusaha meyakinkannya juga meyakinkan diriku sendiri. Kami bisa, begitu seharusnya. "Kita bisa pergi sekarang!" seruku kemudian seraya bergegas menarik tangannya. Namun Kaisar tetap diam.

"Ayo!" aku menatapnya sambil mengangguk pasti.

Kaisar menggelengkan kepalanya. "Jangan pernah berpikir untuk melarikan diri bersamaku," ucapnya. Aku menatapnya bingung sekaligus tak terima.

"Kai, ini demi hubungan kita," tegasku.

"Krystal mengertilah, akan ada banyak orang yang terluka jika kita memaksakan hubungan ini tetap berjalan," Kaisar menatapku lekat.

Aku benci mendengar kalimatnya.

"Apa maksudmu? Kau mengkhawatirkan fans-fansmu itu?" tanyaku ketus. Aku menatapnya sinis. Entah bagaimana pikiran itu tiba-tiba saja terlintas diotakku.

"Bukan..."

"Jangan berbohong Kai!"

"Aku tidak berbohong, tapi mungkin kuakui aku sedikit nengkhawatirkan mereka. Tapi ini lebih dari itu. Ini lebih tentangmu kau berasal dari keluarga terpandang, keluargamu menginginkan kau tentu bersama dengan orang yang tepat yang sama dengan dirimu. Bukan aku lelaki biasa yang mendapat keberuntungan dalam dunia hiburan. Bukan hanya keluargamu, ini juga tentang orang-orang di luar sana yang juga sangat menyayangimu. Tapi aku? Kau tahukan fansku kebanyakan hanya remaja selebihnya mereka memandang profesi yang kujalani sebelah mata. Jika kita bersama maka akan ada banyak orang yang merasa kecewa, ada banyak hati yang terluka."

Aku terdiam. Mendengarkan dengan jelas setiap kalimat yang keluar dari mulut Kaisar. Menyadari bahwa semua yang dikatakannya memang benar adanya. Tapi tetap saja, kepasrahan yang ia utarakan membuat hatiku terasa ngilu. Aku merasa Kaisar telalu pasrah, terlalu takut dan itu sangat mengecewakanku.

"Kai, ini tentang kita. Tentang kau dan aku. Bukan tentang mereka. Kita yang menjalani segalanya, mereka hanya pihak ke tiga yang memandang hubungan kita dengan sebelah mata. Aku tidak tahu harus dengan cara apalagi aku meyakinkanmu bahwa kita bisa menghadapi semua ini bersama. Bukan menyerah pada keadaan. Sekalipun dunia menolak hubungan ini hatiku mengatakan bahwa aku hanya mencintaimu bahwa semuanya akan baik-baik saja saat aku bersamamu. Tapi melihatmu malam ini, mendengar segala keresahanmu aku menjadi bingung sendiri. Bagaimana bisa aku memperjuangkan hubungan kita sementara kau tak pernah berniat untuk memperjuangkannya," ucapku panjang lebar.

Aku menjauh, melepaskan genggaman tangannya. Sungguh hatiku sakit. Jika sebelumnya pada dunia yang menolak kami. Maka kini lebih pada Kaisar. Aku kecewa dengan segala sikap pasrah yang dimilikinya. Aku benci mendengar ia dengan begitu mudahnya menyerah pada keadaan. Aku kesal mengetahui bahwa ia tak ingin memperjuangkan hubungan ini. Sungguh aku tak pernah masalah dengan semua rintangan yang ada untuk hubunganku dengannya. Aku tidak pernah takut dan tidak pernah peduli dengan pandangan orang lain. Tapi Kaisar? Bagaimana bisa aku tidak peduli terhadapnya, sementara dialah orang yang paling berpengaruh atas hubungan ini. Dan saat ia menyerah apalagi yang bisa kupertahankan?

"Pergilah, semuanya sudah cukup."

Aku menyerah. Padanya. Pada hubungan ini. Pada segalanya.

"Krystal ayolah bukan ini yang aku mau."

Kaisar berusaha menahanku namun aku sudah terlanjur kecewa. Bukankah ini yang sejak tadi dia inginkan? Lalu untung apa dia datang kesini, mengatakan segalanya dan saat aku menyerah ia malah menahanku?

"Lalu apa yang kau mau? Menghabiskan malam terakhir bersamaku menciptakan sebuah kenangan yang pada akhirnya hanya akan membuat semuanya terasa berat, begitu?" aku menatapnya nanar. Menantangnya.

Kaisar terdiam.

"Pergilah, kenangan kita sudah terlalu banyak aku tidak berniat untuk menambahnya pada akhirnya jika kita benar-benar berpisah, itu hanya akan menjadi beban bukan? Jadi berhenti Kai, akhiri segalanya disini."

Aku membuka pintu kamarku. Perlahan berjalan masuk. Kaisar? Lelaki itu hanya diam. Tak berniat untuk menghentikanku. Membuat rasa sakit dalam hatiku semakin dalam. Dengan hentakan yang cukup kasar aku menutup pintu kamarku. Aku diam bersandar pada pintu. Berharap setidaknya mendengar Kaisar memanggil namaku. Namun hingga beberapa menit tak ada suara yang terdengar. Hingga akhirnya aku mendapati derap langkah yang menjauh.

Tubuhku lemas seketika. Aku tak mampu lagi menahan beban tubuhku sendiri. Tubuhku luruh. Terjatuh ke lantai. Air mata yang sejak tadi ku tahan kini jatuh satu persatu. Aku rapuh. Aku ambruk. Aku hancur.

Kaisar satu-satunya orang yang kuharapkan saat ini. Tapi apa yang ku dapatkan, dia malah pergi meninggalkanku. Tanpanya aku tak dapat melakukan apa-apa. Aku telah kehilangannya. Lelaki yang sangat kucintai. Aku hanya bisa terisak, merasakan dunia begitu kejam kepadaku. 

Kai, aku mohon kembalilah.

***

#30DWC JILID 4 HARI KE 10

Kamis, 09 Februari 2017

(SongFic) I Miss You - Girls Day

(SongFic) I Miss You - Girls Day

Note : Sebelum baca jangan lupa di puter lagunya Girls Day - I Miss You biar lebih ngena. Hihi. Lagunya nyesek. MVnya juga nyesek. Semoga Song Fiction ini juga berhasil bikin kalian nyesek.
Okey guys langsung aja let's reading!!!

- Sebenarnya aku sangat merindukanmu, aku merindukanmu. Aku ingin menangis di bahumu, aku ingin menangis. Aku tersenyum mencoba untuk bertahan. Namun pikirianku masih belum bisa melakukanya...-


Tik tok tik tok
Aku melirik jam yang menggantung di dinding kamarku. Sudah hampir menunjukan pukul 2 malam. Namun aku masih saja tersadar. Mataku memang terpejam tapi hatiku masih saja terjaga. Aku benci kondisi seperti ini.
Lagi, aku mencoba menggelung diriku dengan selimut. Menariknya sampai menutupi wajahku. Berharap dengan begitu aku dapat terlelap. Tapi sial, cara ini masih saja tak berhasil.
"Shit!" Aku tak dapat menahan umpatan kesalku. Aku menyerah dan memilih untuk benar-benar membuka mataku. Sudah selarut ini, apa yang bisa kulakukan?
Aku pun mencoba meraba meja di sebelah kasurku berusaha menemukan benda berukuran persegi panjang. Damn ya, aku mendapatkannya. Handphone pintar kesayanganku itu kini sudah berada di tanganku. Dengan segera aku membukanya dan memilih untuk berselancar di akun Instagramku.
Baru beberapa menit mataku di buat terpaku oleh foto yang di upload seseorang beberapa waktu lalu. Lelaki tampan, berdiri dengan gagah di depan gedung yang menjulang tinggi senyuman manis mengembang di bibirnya. Sungguh makhluk tuhan yang sangat indah.
Namun beberapa saat kemudian aku merutuki diriku sendiri. Tidak sepatutnya aku memuji lelaki itu. Lagi pula untuk apa? Menyadari lelaki tampan yang baru saja ku puji bukanlah milikku, membuat hatiku tanpa sadar terasa ngilu. Sialan! Seharusnya aku tak membuka instagramku. Bukannya membuat ngantuk aku malah dibuat sedih tak jelas.
"Tidur Ca tidur!" seruku pada diriku sendiri. Aku pun kembali menyimpan handphoneku lalu berusaha untuk kembali tertidur. Memejamkan mataku.
"Arrgghh!" teriakku frustasi. Bagaimana bisa aku melihat dirinya saat aku menutup mataku?
"Dia ada dihati dan pikiran lo," bisik seseorang membuatku terkejut sekaligus bingung. Sebelum akhirnya aku menyadari bahwa suara itu berasal dari hatiku sendiri.


Jangan katakan mengapa
Aku menangis ketika aku membuka mataku
Jangan katakan boy
kita akan bersama

Aku melenguh saat merasakan matahari masuk melalui celah-celah jendela kamarku. Tubuhku menggeliat. Aku bangkit berdiri menghembuskan nafas saat melihat jam yang menunjukan pukul 7 pagi. Huft, ia baru tetidur sekitar jam 3 itu artinya dia baru tidur sekitar 4 jam. Pantas saja kepalanya terasa berat dan pusing.
Mengingat ini hari minggu. Aku tak mau bersusah-susah untuk berburu-buru bangun. Toh aku tak punya kegiatan penting yang harus kulakukan. Bermalas-malasan adalah satu-satunya hal yang ingin aku lakukan di hari minggu. Jadi sekarang aku hanya terduduk dengan pandangan kosongku.
Drrtt.... Drrtt...
Getaran dari handphoneku berhasil menyadarkan aku dari lamunan panjangku. Aku menghembuskan nafasku lalu mengambil handphoneku dengan gerakan malas.
Mataku yang masih sayu seketika terbuka lebar melihat nama yang terpampang di layar teleponku. Kenapa harus dia lagi? Teriakku tak terima dalam hati. Lelaki sama yang telah membuat tidurku tak nyenyak semalam.
Biar kuberitahu, tapi aku tak ingin menyebut namanya. Biarlah kita panggil saja dia Mr. R. Lelaki yang sudah memilih untuk menganggapku hanya sebagai teman padahal kedekatan kita sempat lebih dari itu. Lelaki tampan yang telah memblacklist namaku dari daftar orang yang akan dijadikan pacarnya, dengan beralasan persahabatan. Tapi seingatku sebelumnya dia tak pernah memperlakukanku seperti seorang sahabat. Dia memperlakukanku seolah aku adalah cintanya. Membuatku baper sebelum akhirnya ditinggalkannya saat aku meminta kepastian. Mengingat hal itu hanya membuat hatiku semakin terasa sakit. Sungguh dia telah menghancurkan hati sekaligus harapan yang dulu hanya untuknya.
Aku melihat handphoneku yang masih terus bergetar. Menampilkan nama yang sama. Entah untuk panggilan ke berapa. 
Kenapa kau berusaha menghubungiku lagi? Kenapa kau menggetarkan hatiku lagi? Mengapa kau melakukannya seolah tidak pernah terjadi apa-apa? Aku menatap handphoneku dengan nanar seolah berbicara dengan si penelepon.
Aku memeluk tubuhku sendiri dengan selimut yang sejak tadi masih melingkupi tubuhku. Sungguh, aku sedang berusaha menahan gejolak dalam diriku sendiri. Jika saja bukan demi egoku aku pasti sudah sejak tadi mengangkat telepon itu dan berbicara banyak serta tertawa bersama dengannya seperti biasanya. Tapi sekarang aku tidak bisa melakukannya.
Jujur, aku merindukannya. Sangat merindukannya. Aku rindu menatap wajahnya lama-lama, aku merindukan mata hitamnya yang tajam namun selalu lembut. Aku rindu mendengarnya berceloteh banyak, menceritakan segala kegiatannya dengan berbagai ekspresi. Mulai dari kesal sampai terlihat lucu dan menggemaskan. Aku rindu caranya memperhatikanku. Sungguh aku rindu segalanya. Aku masih memginginkannya menemari hari-hari tersulitku. Saat dia akan dengan senang hati memberikan bahunya untukku. Membuatku merasa nyaman untuk menumpahkan segala tangis akibat dari kepedihan hidupku. Demi apapun aku sangat merindukannya.
"Bodoh! Setelah semuanya lo masih aja kangen dia?" aku tertawa miris menertawakan diriku sendiri. Sementara tanganku sibuk menghapus dengan kasar air mata yang entah sejak kapan membasahi pipiku. Aku sadar hanya ini yang akan ku dapat saat mengingat dan memikirnya. Air mata. Hanya itu. Tak ada yang lainnya.
"Ca! Eca!" Aku tersentak pelan mendengar panggilan di depan pintu kamarku.
"Kenapa Ma?" tanyaku berusaha untuk senormal mungkin. Tak ingin Mama mengetahui pergolakan batin apa yang sedang kualami.
"Di depan ada yang nyariin kamu tuh!" balas Mama dari luar.
Aku mengernyit bingung. Siapa orang yang pagi-pagi datang menemuiku?
"Siapa?"
"Udah deh kamu temuin aja sendiri, udah siang juga bukannya bangun. Cepet dia nungguin di luar tuh!" seru Mama dan aku mendengar derap langkahnya menjauhi kamarku.
Ditengah kebingunganku. Aku pun memilih untuk bangkit dan menuju kamar mandi. Mencuci muka dan bersikat gigi agar terlihat lebih segar. Siapapun itu, aku tak mau pusing-pusing terlihat baik di depannya. Paling cuma sahabatku.
Setelah selesai aku segera keluar kamar mandi. Saat akan keluar kamar mataku tak dapat menahan untuk melihat handphoneku.
"Huh!" Lelaki itu masih tak menyerah menghubungiku. "Rasain!" cibirku membayangkan wajahnya yang saat ini sedang mengkhawatirkanku. Akupun segera keluar dari kamar bergegas menemui orang yang entah siapa.
Aku segera membuka pintu depan. Tubuhku menegang menyadari siapa orang yang sejak tadi menungguku. Seorang lelaki dengan telepon ditelinganya. Membuatku ingin segera kembali ke dalam namun sialnya lelaki itu telah lebih dulu menoleh dan menatapku.
"Eca!" serunya. Aku dapat mendengar nada frustasi dalam kalimatnya. Ia mendekapku dengan cepat kedalam pelukannya. Membuatku hanya bisa tertegun. Merasakab kehangatan yang beberapa hari ini selalu kurindukan. Hatiku ingin menolaknya melepaskan diri dari pelukannya. Namun sialnya tubuhku malah bersikap berbanding terbalik. Kaku dan pasrah dalam pelukannya.
"Lo kemana aja sih? Kenapa lo susah banget dihubungi? Sekalinya bisa lo enggak angkat telepon gue," tanyanya menatapku khawatir. Sedikit rasa senang menyelusup dalam hatiku saat melihat ada kelabu yang dalam mata hitamnya.
Aku terdiam. Bingung ingin menjawab apa. Kepalaku bahkan hanya tertunduk tak berani untuk sekedar menatap mata indah itu. Aku hanya tidak ingin kembali dibuat jatuh oleh kelembutan matanya.
"Lo baik-baik aja kan?"
Aku mengangkat kepalaku. Menatapnya. Setelah semua yang ia lakukan kepadaku bisa-bisanya dia bertanya seperti itu? Tak sadarkah bahwa dirinya lah orang yang menjadi alasan dibalik kondisiku saat ini?
"Ca, oh ayolah. Jangan bikin gue khawatir, lo enggak apa-apakan? Kenapa lo jauhin gue Ca?" lelaki itu mengguncang bahuku. Namun aku tetap mempertahankan sikap diamku.
"Ca..."
Aku menepis tangannya dari bahuku. Lalu bergerak mundur. Ia menatapku bingung dan aku tak peduli.
"Kenapa Ca?"
Aku menggelengkan kepalaku sambil terus bergerak mundur sampai akhirnya aku sampai dipintu rumahku. Aku menatapnya.
"Berhenti bersikap baik sama gue, berhenti!" desisku.
"Kenapa?"
"Cukup berhenti dan gue akan baik-baik aja!" seruku. Setelah mengucapkan kalimat itu aku segra berlari ke dalam rumah. Tak ingin ambil pusing dengan responnya juga tatapan bingung dari Mama-ku. 
Setelah sampai dikamarku. Aku menjatuhkan tubuhku ke atas kasur. Menangis sekencang-kencangnya. Menumpahkan segala perasaan yang diakibatkan karenanya. Rasa sakit, kesal, marah, kecewa, rindu. Semuanya bercampur aduk menjadi satu. Hingga tak ada hal lain lagi yang bisa kulakukan selain menangis.
Aku tidak membencinya. Aku hanya sangat mencintai sebelum akhirnya terlalu dikecewakan.
Biar saja hari ini aku akan menangis sepuasnya. Melepaskan satu persatu rasa yang ada untuknya. Mengingat setiap kejadian yang pernah kulewati bersamanya. Karena setelah ini aku akan mengahapus ia sepenuhnya dari hatiku. Dan ia hanya akan menjadi rindu yang kupendam. Tak apa meski berat. Aku bisa brrtahan.

END

Pandeglang, 9 Februari 2017
#30DWC JILID 4 HARI KE 9

Rabu, 08 Februari 2017

Babyruary

- Babyruary - 

Februari di tahun ini menjadi bulan yang indah bagiku. Ah tidak bukan hanya aku lebih tepatnya bagi keluargaku. Kenapa? Tepat di tanggal 6 Februari 2017, Tuhan mengirimkan anugerah terbesarnya untuk kami. Ya, seorang malaikat kecil telah hadir di tengah-tengah keluargaku.

Dia bukan adikku melainkan anak dari kakak perempuanku. Alhamdulillah sekitar pukul 15.05 kakak perempuanku melahirkan seorang putri dengan berat 3 Kg dan panjang 48 cm. Normal dan selamat.

Meski datang dengan tangis dan di sambut dengan tangis pula. Tapi aku tahu tangis kali berbeda dengan tangisan biasanya. Tak ada rasa sedih ataupun duka untuk tangis kali ini, yang ada hanyalah kebahagiaan yang teramat besar. Sampai tersenyum saja tak akan cukup untuk menggambarkannya.

Aku berada disana saat proses kelahiran dan rasanya sungguh menebarkan. Aku bahkan tidak berani untuk melihat prosesnya. Berjam-jam aku, Bapak, Mama, Suami Kakak-ku dirundung perasaan khawatir dan tegang. Takut sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Terlebih saat sudah berjam-jam bayi tak kunjung keluar. Tapi untunglah setelah kurang lebih 4 jam yang terasa seperti berabad-abad itu. Suara tangis malaikat kecil itu menjadi pertanda kelegaan untuk kami semua. Sungguh rasanya sangat menyenangkan dan menenangkan.

Wajahnya bersih dan putih. Tenang dan damai. Baunya harum. Begitu enak untuk dipandang lama-lama. Aku langsung mencintainya sejak pertama kali melihatnya. Anugerah terindah di bulan Februari.

Pembawa tawa. Kebahagiaan. Cerita. Senyum. Manis. Suka. Dan hal laiinnya yang kuyakini akan membuat semuanya menjadi lebih indah. Karena belum ada nama kupanggil dia Babyruary. Bayi yang lahir di bulan Februari.

Pandeglang, 8 Februari 2017
#30DWC Jilid 4 hari ke 8

Selasa, 07 Februari 2017

(SongFic) Usai Disini

(Song Fic) Usai Disini

Pedihnya tanya yang tak terjawab
Mampu menjatuhkan ku yang dikira tegar

"Ta, Dimas kemana sih?"
Metta terdiam. Entah sudah berapa kali pertanyaan yang sama itu sampai di telinganya. Bukannya ia malas menjawab atau apa. Hanya saja ia merasa akan sia-sia sekalipun ia memberikan pernyataannya. Karena pada nyatanya ia pun tak tahu dimana keberadaan Dimas saat ini.
Gadis itu menghembuskan nafas lelah. Menatap satu-persatu orang dihadapannya yang tampak resah. Sementara itu di atas panggung sana solo, duo, grup/band tengah saling berlomba memperlihatkan penampilan terbaik mereka. Hal itu pula lah yang menjadi alasan keresahan di wajah Metta dan teman-teman se-bandnya.
Bagaimana tidak? Mereka akan tampil sebentar lagi. Sialnya Dimas yang notabene adalah vokalis band mereka tak kunjung datang.
"Dia sebenernya niat enggak sih?" Raka sang drummer mengumpat pelan.
"Harusnya tuh kita udah nyari vokalis pas sadar dia udah jarang latihan," Eza si gitarist pun tak tahan untuk ikut bicara.
"Ta, lo kan pacarnya enggak bisa apa kalau lo hubungin dia?" Raka menatap Metta kesal melihat gadis itu tak melakukan apapun.
"Ta, Raka bener lo harus hubungi dia, kita tampil habis ini," seru Dio yang baru saja kembali dari toilet.
Metta terdiam lalu mendekat ke arah teman-teman bandnya yang notabene laki-laki. Tanpa banyak bicara ia menyerahkan handphonenya.
Raka sempat dibuat bingung namun akhirnya mengambil handphone tersebut.
Puluhan telepon, Line, BBM sudah berusaha dilakukan Metta namun sialnya tak ada satupun yang diangkat maupun dibalas. Dimas telah mengabaikan segalanya.
"Okey guys langsung aja kita panggilin peserta selanjutnya dengan satu wanita cantik yang di kelilingi oleh empat pria tampan, The Altairs!"
Keempatnya terdiam mendengar nama band mereka dipanggil.
"Ayo kita harus tampil!" seru Metta bergerak menuju panggung.
"Tapi Ta..."
Metta membalikan badannya. Matanya menatap tajam namun kosong.
"Gue akan nyanyi sendiri, tanpa dia. Kita bisa!" ucapnya tegas. Dio, Raka dan Eza pun mengikuti langkah Metta menuju panggung.
"Selamat malam semuanya kita The Altairs, mungkin kalian bingung karena kita ber-empat. Yah sayang banget Dimas, vokalis sekaligus gitaris kita berhalangan hadir karena ada hal penting yang enggak bisa dia tinggalkan. Tapi tenang aja kita akan tetap ngelakuin yang terbaik. Spesial untuk kalian semua Kali Kedua!" seru Metta yang berada di belakang keyboardnya. Sesaat setelahnya lagu Kali Kedua versi The Altairs pun mulai dimainkan.

Kau tepikan aku kau renggut mimpi
Yang dulu kita ukir bersama

The Altairs turun dari panggung. Meskipun tidak sesuai dengan apa yang sudah mereka rencanakan, tapi mereka cukup merasa puas karena penampilannya yang cukup menghibur. Mereka pun memilih untuk menunggu di backstage tempat para perserta berkumpul. Hanya beberapa orang saja disana karena sisanya lebih memilih untuk menonton penampilan yang lain. Namun sayang karena dalam keadaan yang kurang enak The Altairs memilih untuk hanya menunggu.
"Shit! Dimas sama sekali enggak bales!" umpat Raka saat mengecek handphonenya.
"Yaudahlah Ka yang penting kan kita udah tampil," ucap Dio.
"Tapi dia itu enggak tanggung jawab, enggak bisa dibiarin!" cetus Raka lagi. "Kalian enggaj ngerasa kesel apa?" Raka menatap teman-temannya satu persatu. Namun tak mendapat jawaban. Lelaki itu mendengus.
"Mungkin Dimas emang ada sesuatu, mungkin dia kena musibah atau something," ujar Eza.
Metta yang sejak tadi diam mendadak mengangkat kepalanya. Perasaan khawatir mulai menyelimuti hatinya. Gadis itu baru saja akan mengeluarkan handphonenya menghubungi seseorang saat suara MC diatas panggung berhasil menarik perhatiannya.
"Nah guys, karena juri lagi pada berunding dulu nih so mendingan kita nikmati dulu aja penampilan dari bintang tamu kita Clarisa Andriyani ditemani oleh gitarisnya Adimas Prakasa!"
Metta tertegun. Matanya membulat lebar saat melihat orang yang sejak tadi ada di dalam pikirannya naik ke atas panggung. Meski hanya melihat dari layar LCD yang di pasang disana. Namun Metta yakin cowok berkemeja putih di panggung sana adalah Dimas. Dimas kekasihnya.
"Jir Dimas kampret!"
"Sialan mentang-mentang Clarisa udah jadi artis dia milih Clarisa!"
"Gila demi apapun Dimas bangke banget!"
Mendengar umpatan teman-temannya Metta hanya bisa diam. Sungguh jauh sejak tadi hatinya sudah hancur berkeping-keping. Tak benbentuk. Harapan yang sempat ada lenyap tak bersisa. Namun lebih dari itu.
Bukan. Bukan karena Dimas kekasihnya dan ia kekasih Dimas. Bukan karena hubungan cinta diantara mereka. Tapi ada hal berharga yang lebih penting dari itu. Ada mimpi yang sempat mereka rajut bersama sebelum akhirnya direnggut tanpa ampun hingga hanya kenyataan yang bisa Metta terima. Kenyataan bahwa Dimas tak menepati janjinya.


Seolah aku tak pernah jadi bagian besar
Dalam hari-harimu

"Gila! Clarisa emang selalu keren!" seru sang MC cowok berdecak kagum saat Clarisa baru saja selesai bernyanyi.
"Bener banget apalagi bareng sama Adimas makin daebak aja!" timpal si MC cewek.
Clarisa dan Dimas hanya tersenyum sambil mengangguk sopan tanda terima kasih.
"By the way, kalian serasi banget nih. Atau jangan-jangan kalian pacaran yah?" tuduh sang MC cowok membuat suasana langsung heboh.
Clarisa tertawa, "bukan kok sejauh ini kami cuma teman kok," jawabnya.
"Wah berarti ada kemnungkinan buat bareng dong?"
"Yah kalau cewek sih gimana cowoknya," jawab Clarisa sambil sesekali menatap Dimas. Kalimatnya barusan berhasil mengundang sorakan dari penonton.
"Wah kode keras banget tuh Dim!"
"Kalau gue sih dikodein sama cewek secantik Clarisa langsung dah gue pekain.
Dimas hanya tersenyum mendengar celotehan para MC.
"Tunggu tanggal mainnya aja deh ya!" dan kalimat dari Dimas barusan berhasil membuat suasana semakin panas. Sangat panas, apalagi untuk seorang gadis yang sejak tadi ada di backstage. Saking panasnya hatinya bahkan sampai terbakar. Ya, terbakar apa cemburu. Matanya pun sukses dibuat memanas.
"Maksud lo apa sih Dim?"


Lebih baik Kita usai disini
Sebelum cerita indah Tergantikan pahitnya sakit hati

"Woohoo ternyata tanpa Dimas kita masih bisa menang!" Raka berseru gembira sambil memegang plakat juara pertama Band Fertival ditangannya.
"Malahan kalau ada Dimas kayanya kita gak bakal dapet juara!" cetua Eza.
"Ini berkat lo Ta!" seru Dio menatap Metta. Metta hanya tersenyum.
"Lo enggak apa-apa kan Ta?" tanya Raka. Jelas pertanyaan ini bukan tentang kejuaraan yang mereka dapatkan ini lebih tentang hatinya.
Metta mengangguk, "baik-baik ajalah orang gue seneng dapet ini!" serunya sambil menunjuk plakat kejuaraan ditangan Raka.
"Baguslah Ta, mulai sekarang enggak usah mikirin cowok brengsek itu lagi, mendingan kita ngerayain kemenangan kita ini!" seru Eza sambil merangkul bahu Metta. Metta hanya mengangguk.
Namun langkah keempatnya terhenti saat orang yang sejak tadi mereka umpat ada di depan mereka. Ya, Adimas. Clarisa menempel di sampingnya. Mereka sempat bertatapan beberapa saat namun memilih untuk saling mengacuhkan. Hingga saat berpapasan Metta merasakan sentuhan ditangannya.
"Kita perlu bicara!"
Metta menatap Dimas tajam dan berusaha melepaskan tangannya.
"Aku mau ngejelasin segalanya," cekalan di lengan Metta makin mengencang.
"Lo..."
"Jangan Ka, biarin. Kalian duluan aja," cegah Metta saat Raka mulai emosi. Iapun berusaha meyakinkan teman-temannya. Hingga akhirnya mereka pergi menyisakan Metta, Dimas dan Clarisa.
"Lo pergi aja, Ca." Seru Dimas pada Clarisa.
"Gue bisa bantu jelasin," tukas Clarisa.
Dimas menggelengkan kepalanya. Clarisa menyerah dan memilih untuk pergi. Sekarang tinggalah Dimas bersama Metta.
Hening. Hanya itu yang tercipta beberapa saat. Keduanya terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Aku bisa jelasin semuanya," Dimas memulai pembicaraan.
"Silahkan," Metta berucap singkat.
Dimas pun menjelaskan bahwa hubungannya dengan Clarisa hanyalah settingan semata untuk menaikan nama keduanya. Ia sendiri terpaksa melakukan itu karena ancaman Ayahnya. Kalau ia sampai tidak terkenal dalam waktu seminggu, jika tidak ia harus berhenti menjadi penyanyi dan meneruskan bisnis Ayahnya.
"Kamu percaya kan sama aku?" tanya Dimas.
Metta mengangguk. Dia percaya Dimas tidak berbohong padanya.
"Syukurlah," ucap Dimas lega sambil memeluk Metta. Namun Metta tak membalas pelukannya. Membuat Dimas menjadi bingung. "Kenapa?"
"Aku percaya sama kamu, tapi aku rasa kita harus selesai sampai disini," ujar Metta.
Dimas membelalakan matanya tak percaya.
"Kenapa Ta? Kamu marah aku sama Clarisa?"
Metta menggelengkan kepalanya, "pointnya bukan tentang itu. Ini tentang kita sejak lama. Kamu sadar enggak sih hubungan kita udah hambar?" Metta menatap Dimas tanpa ragu.
"Kita bisa perbaiki segalanya Ta, ini udah 2 tahun," Dimas mengingatkan lamanya hubungan mereka terjalin. "Kamu marah karena aku ngelakuin semua ini?"
"Aku bukan marah karena kamu dengan Clarisa. Aku marah lebih sama cara kamu memperlakukan aku. Kamu seharusnya bilang tentang semuanya sejak awal bukan saat semuanya hancur kaya gini. Aku udah merasa bukan lagi apa-apa untuk kamu Dim," ujar Metta. Tanpa sadar gadis itu menangis. Ia mengungkapkan segala keresahan yang sejak tadi ada didalam hatinya. Ah tidak lebih tepatnya sejak beberapa waktu lalu saat hubungannya dan Dimas sudah tak sama seperti dulu.


Bukannya Aku mudah menyerah
Tapi bijaksana
Mengerti kapan harus berhenti
Ku kan menunggu Tapi tak selamanya

"Ta, oh ayolah... kita enggak bisa begini," Dimas mengusap wajahnya frustasi. Tak tahu lagi harus bagaimana. "Udah sejauh ini, dan kamu memutuskan berakhir gitu aja?" Dimas menatap Metta tak habis pikir.
"Bukan gitu Dim. Aku udah ngerasain ini semua sejak beberapa bulan lalu dan aku berusaha untuk bertahan berharap kamu dapat berubah dan mengerti. Tapi apa? Hubungan kita makin enggak jelas. Kita hanya terikat hubungan karena status," ujar Metta pelan. "Kita sama-sama udah menyerah akan cinta ini hanya menunggu waktu siapa yang akan memutuskan, dan aku memilih untuk mengambil bagian itu sekarang." Metta menundukan kepalanya. Meskipun ia terlihat jahat karena menjadi pihak yang memutuskan hubungan tapi sungguh hati Metta juga sangatlah sakit.
"Ta..."
"Ini bukan karena aku nyerah Dim, tapi inilah yang memang harusnya terjadi sama kita. Sekarang titik terakhir untuk hubungan kita," ucap Metta lagi tak ada sedikitpun tanda lelaki itu akan menarik ucapannya.
"Okey kalau itu mau kamu," ucap Dimas akhirnya. "Kita putus." seru Dimas sebelum akhrinya berlalu meninggalkan Metta tanpa mengatakan apapun lagi.
Metta diam. Matanya mengabur menatap punggung Dimas yang menjauh dan mendekat pada Clarisa. Gadis itu tersenyum miris.
"Sebenarnya aku bisa bertahan cuma aku hanya ingin mempermudah segalanya untuk kamu Dim," ujarnya dan saat itu juga tangisnya pecah. Ia melakukan ini bukan karena ia ingin tapi karena ia harus.


END

Pandeglang, 7 Februari 2017
#30DWC JILID 4 HARI KE 7

Review Drama: The Item, Drama Supranatural yang Bikin Mikir Keras!

Anyeonghaseyo yeorobun! Kali ini aku mau ngereview salah satu drama Korea yang baru aja selesai aku tonton. Btw drama ini baru aja tamat mi...