Tampilkan postingan dengan label galau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label galau. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Desember 2016

Hari-Hari Tanpamu



            Aku tidak tahu sampai kapan aku dapat bertahan. Sementara baru beberapa hari saja aku sudah di dera rindu yang mendalam, disiksa batin yang mendambanya. Bagaimana bisa? Ku pikir tanpamu aku tidak serapuh ini, tapi nyatanya aku sungguhlah lemah.
            Sebelum aku memutuskan untuk menjauh pun aku sudah memikirkan matang-matang konsekuensi yang akan kuterima. Rindu. Kecewa. Sakit hati. Kesal. Semua itu pasti akan kurasakan, namun aku tak menyangka akan secepat ini.
            Aku selalu berusaha untuk mengatakan pada diriku sendiri bahwa tanpamu aku pasti akan baik-baik saja, sama seperti sebelum aku mengenalmu. Bodohnya aku tak pernah sadar bahwa semua yang telah terlewati tak akan pernah menjadi sama lagi. Dulu aku tanpamu, sekarang pun aku tanpamu bedanya, kini kau sempat hadir dalam hidupku sebelum akhirnya meninggalkan kenangan-kenangan yang hanya bisa ku simpan dalam hatiku dan berputar-putar dalam memoriku. Ku pikir itulah yang membuat semuanya menjadi berat
            Hari-hari ku tanpamu sungguh tidak baik-baik saja. Aku mencoba melangkah, berjalan, berlalu seperti seharusnya. Tapi nyatanya semua itu tidak mudah. Aku seperti kehilangan sesuatu dalam hidupku. Aku bahkan seperti mati di dalam duniaku sendiri. Aku menjalaninya berusaha melakukan segalanya dengan baik, menjalani hidupku seperti biasanya. Ragaku bisa melakukannya, tapi hati dan pikiranku tidak. Mereka bergerak tidak pada tempatnya. Melangkah melawan arah. Jadi bagaimana bisa aku baik-baik saja sementara jiwa dan ragaku sudah tak sejalan? Sedangkan hidupku bergantung pada keduanya.
            Tidak aku salah. Nyatanya hidupku tidak hanya bergantung pada jiwa ragaku, tapi juga pada kamu. Benar kamu. Seseorang yang telah pergi dari hari-hariku. Seseorang yang telah mengambil hatiku namun tak pernah mengembalikannya.

26 Desember 2016
#30DWC Jilid 3 hari ke 26

Tanpa Kepastian, Aku Tak Punya Hak



            Kita ini apa? Seringkali pertanyaan itu ingin mencuat dari mulut nakalku namun selalu berhasil di tahan oleh logikaku dan akhirnya hanya bisa tercekat di tenggorokanku. Sudah sejauh ini namun tak ada kata pasti yang dapat menggambarkan hubungan kita ini. Teman? Kita lebih dari itu. Pacar? Rasanya belum cukup untuk disebut seperti itu. Ya mungkin benar hubungan kita ini, More than Friends, Less than Lover. Right?
            Sederhananya mungkin kalian menyebut kami ini menjalin hubungan tanpa status, teman tapi mesra, friendzone, atau mungkin sebatas teman tanpa kepastian? Benar, kepastian. Itulah yang harus di perjelas disini. Sungguh demi apapun menjalani hubungan tanpa kepastian tak ada menggenakannya sama sekali, yang ada hanyalah bisa membuat kita menjadi serba salah.
            Kita sudah sering bersama, kesana kemari berdua, saling merindu saat tak bertemu dan akhirnya menjalin komunikasi melalui telepon genggam sampai tak tahu waktu. Aku menceritakan segalanya, kau pun begitu. Kita berbagi suka dan duka. Tapi apa? Kau seperti tak ada niatan sama sekali untuk memastikan hubungan kita, kau hanya membuatku selalu berharap semakin jauh dan jauh. Selalu dan selalu.
            Haruskah aku yang memulai duluan? Kau tahukan aku hanya seorang wanita? Kodratku untuk menunggu bukan memperjuangkan. Norak? Kampung? Bukan, aku bukan wanita kampung yang tak mengerti emansipasi wanita. Aku hanyalah wanita yang ingin menjaga prinsipku, aku hanya tak mau dibilang murahan. Tidak sama sekali.
            Sialnya kau sungguh bukan orang yang peka, kau bahkan terlalu banyak memberi kode. Kata-kata dan tindakanmu menjurus pada cinta namun sayangnya tak ada permintaan pasti padaku. Kau tidak pernah memintaku untuk menjadi kekasihmu. Kau membuat hubungan ini menjadi lebih dari teman namun tanpa pernah ada kepastian. Sedangkan aku bisa apa?
            Sebagai seorang wanita aku hanya bisa menunggu tanpa tahu kapan waktu pastinya. Aku hanya bisa berharap tanpa tahu yang kuharapkan akan tercapai atau tidak. Aku hanya bisa merindu tanpa tahu apa kau merinduku juga. Aku hanya bisa diam.
            Sialnya kau seringkali memanfaatkan ketidakpastian ini. Ada kalanya kau tak mengabariku seharian, kau menghilang tanpa ada alasan yang jelas, kau pergi memberikan kekhawatiran kepadaku, kau dekat dengan wanita lain selain diriku. Tapi apa yang bisa kulakukan. Untuk marahpun aku tak punya hak, untuk kesalpun aku tak punya hak, untuk cemburu pun aku tak punya hak, bahkan untuk bertanyapun aku tak punya hak. Ya, aku bukan siapa-siapa, sehingga aku tidak punya hak.
            Seandainya saja aku adalah kekasihmu semuanya akan lebih mudah bagiku, aku memiliki hak sebagai kekasihmu. Selayaknya kekasih aku akan merasa kesal dan memarahimu saat kau tak menghubungiku seharian, aku akan dengan mudah mengatakan kekhawatiranku, rinduku dan cintaku, aku akan dengan mudah mengatakan aku cemburu, saat kau bersama wanita lain. Sayangnya semua itu hanya seandainya, karena aku sama sekali tidak memiliki hak atas dirimu. Aku bukanlah kekasihmu. Benar kata temanku, seperti platshoes kita tak punya hak.
            Aku lelah harus selalu menjadi orang yang memulai segalanya lebih dulu. Aku benci pada diriku yang selalu merasa kesal saat tak mendapat kabar darimu. Aku lemah saat harus menghubungi lebih dulu. Aku, sungguh aku tak mau terus seperti ini. Aku tak mau terus bersamamu namun tanpa kepastian. Kau mengertikan maksudku? Sungguh, menyimpan semuanya dalam hati hanya membuat batinku semakin tersiksa dan tersiksa.
            Saat ini aku hanya ingin mengatakan aku akan melepaskanmu. Tidak lebih tepatnya aku ingin melepaskan diri dari hubungan tanpa kepastian ini. Seperti berlari tanpa pernah mengetahui garis finish, pada akhirnya hanya lelah yang akan ku dapat. Jadi biarkanlah aku membebaskan diriku sendiri dari hubungan ini, aku hanya tidak ingin semakin tenggelam dengan perbuatan bodohku sendiri.
            Kau harus tahu, aku bertanggung jawab atas hatiku sendiri, Sayang. Hanya orang bodoh yang memberikan organ vitalnya pada orang lain secara cuma-cuma.

25 Desember 2016
#30DWC Jilid 3 hari ke 25

Jumat, 09 Desember 2016

Seharusnya Aku Baik-Baik Saja



Seharusnya Aku Baik-Baik Saja

            Dahulu sebelum hari ini pun, aku baik-baik saja tanpa dirimu. Aku terbiasa hidup dengan kesendirianku, aku terbiasa berjalan tanpa ada seseorang di sampingku, aku terbiasa menyimpan keluh kesahku sendiri. Tapi kenapa sekarang semuanya menjadi begini?
            Semenjak kau mendadak masuk ke dalam hidupku, semenjak kau tiba-tiba saja mulai mengisi hari-hariku. Entahlah aku dengan mudahnya dibuat tertawa oleh hal-hal kecil yang kau lakukan. Aku dibuat rindu hanya karena tak bertemu denganmu beberapa waktu. Kau menawarkan sejuta harapan di hidupku yang sepi. Tanpa pernah ku sadari aku sudah dibuat jatuh pada cinta yang entah bagaimana mulai ku berikan padamu.
            Kita mulai bersama, menghabiskan waktu tanpa tahu batas. Saling berbagi memberikan bahu satu sama lain. Menjadi tempat ternyaman untuk di jadikan rumah saat lelah mulai mendera. Kita, kau dan aku menjadi teramat dekat. Saling membutuhkan, saling merindu dan saling mencinta. Semuanya terasa indah pada waktu itu yang ku pikir akan bertahan lama bahkan abadi.
            Namun nyatanya semuanya tak semudah itu, semuanya seperti hubungan pada umumnya manis di awal sebelum akhirnya menciptakan pahir untuk akhir yang tragis. Semakin lama semuanya semakin tak sama, Sikapmu perlahan-lahan mulai berubah. Kau menjauh tanpa ku sadari. Kau menjadi sulit untuk sekedar dihubungan, kau menjadi sibuk sampai tak sempat untuk sekedar menghubungiku. Kau bahkan sempat menghilang tanpa pernah memberikan alasan yang jelas. Sementara aku? Aku dibuatmu khawatir, aku memikirkan bagaimana keadaanmu, aku memikirkan apa yang terjadi padamu, yang jelas aku amat sangat mengkhawatirkanmu.
            Sayangnya kekhawatiranku tak beralasan, aku hanya terlalu mencinta sampai merasa seperti itu. Sementara kau sedang baik-baik saja, kau hanya sudah tak seperti dulu lagi. Entah bagaimana yang ku tahu kau sudah tak mencintaku seperti dulu lagi.
            Kau pergi semakin jauh, semakin tak terjangkau, sampai aku tak mampu lagi untuk menggapaimu. Sejak saat itu ku akui aku telah kehilanganmu.
            Hidupku yang sudah terbiasa denganmu perlahan menjadi tak biasa lagi. Aku kembali sendiri, aku kembali menyimpan rasaku dalam hati, aku tak memiliki tempat untuk berbagi, aku kembali seperti dulu seperti saat aku belum bertemu denganmu. Semuanya sama seperti dulu, yang berubah hanyalah aku tak dapat menjalani hidupku dengan baik-baik saja tanpa dirimu. Tidak seharusnya.
            Aku merasa kesepian, aku didera rindu, disakiti luka dan selalu ingin menangisinya. Hidupku perlahan-lahan memudar sampai akhirnya menghitam. Aku tidak tahu kapan jelasnya yang pasti aku seakan mati dalam hidupku sendiri. Aku benci. Aku benci seperti ini. Aku benci diriku yang tak bisa kembali seperti dulu.
            Seharusnya aku baik-baik saja tanpamu. Seharusnya aku baik-baik saja meski harus sendiri. Seharusnya aku baik-baik saja meski kesepian. Seharusnya aku baik-baik saja dalam hidupku dengan ataupun tanpa dirimu. Karena dulu sebelum kau hadir dan mengusik hidupku, menemaniku, membuatku tertawa, memberi bahagia, menawarkan harapan kenyamanan, aku baik-baik saja. Karena memang seharusnya dengan ataupun tanpa dirimu aku baik-baik saja. Namun sayangnya semuanya tak lagi sama, kini hal itu hanya bisa menjadi seharusnya.

09 Desember 2016
#30DWC Jilid 3 hari ke 9

Sabtu, 03 Desember 2016

Kita: Kau, Aku, dan Dia



Kita: Kau, Aku, dan Dia

Kita, bukankah masih tentang kau dan aku?
Tentang cintamu dan cintaku
Tentang rindumu dan rinduku
Tentang kasihmu dan kasihku
Tentang dukamu dan dukaku
Tentang sukamu dan sukaku
Tentang lukamu dan lukaku
Begitulah yang selama ini ku tahu
Sebelum dia datang,diam-diam menyusup
Masuk pada celah-celah rindu
Yang kita tinggalkan tanpa temu
Dimana kau sibuk dengan duniamu
Dimana ku sibuk dengan duniaku
Kita tahu, kita butuh
Tapi jarak tak biarkan kita bersatu
Sementara dia siap menjadi bahu
Kala hati dilanda rindu yang pilu
Mengisi sepi yang tabu
Diantara kau dan aku

03 Desember 2016
#30DWC Jilid 3 hari ke 3

Review Drama: The Item, Drama Supranatural yang Bikin Mikir Keras!

Anyeonghaseyo yeorobun! Kali ini aku mau ngereview salah satu drama Korea yang baru aja selesai aku tonton. Btw drama ini baru aja tamat mi...