Sabtu, 03 Desember 2016

Everything Has Changed (Cerpen)



Title                 : Everything Has Changed
Main Cast        : Que CheRa CheRa Couple
Length             : Oneshoot
Genre              : Sad, hurt
Let’s reading...

Gadis itu terdiam, hanya sesaat karena beberapa detik selanjutnya ia kembali melanjutkan langkahnya namun tidak secepat tadi bahkan terkesan lambat, semakin dekat ia dengan punggung tegap dihadapannya semakin berat juga ia melangkahkan kakinya. Bahkan gadis itu benar-benar terpaku ketika sosok dihadapannya tiba-tiba saja membalikan tubuhnya, menatapnya, tersenyum dan seperti biasa melontarkan sapaan hangatnya.
“Hai... Apa kabar?” Lelaki yang tak lain adalah Raffi tersebut melambaikan tangannya, senyuman manis mengembang di bibirnya.
“Hai... Aku... Kabarku baik seperti yang kamu lihat,” balas Cherry gadis itu tersenyum namun tetap tidak bisa menutupi kecanggungannya yang luar biasa terlebih ketika Raffi hanya menanggapinya dengan anggukan paham.
Cherry terdiam, gadis itu mengamati lelaki yang kini berada dekat dihadapannya. Tidak banyak berubah hanya menjadi sedikit lebih tinggi dan juga rambutnya menjadi lebih panjang dan berantakan dibandingkan saat pertemuan terakhir mereka beberapa bulan lalu. Bibirnya seperti biasa selalu menyunggingkan senyuman, namun Cherry tau ada yang berbeda dari senyuman itu, meskipun selebar biasanya namun tampak kosong, datar, tak bernyawa, ah yang jelas senyuman itu tidak seceria biasanya.
“Apa yang terjadi?” Cherry tak mampu menahan rasa penasarannya, ia menatap lelaki dihadapannya dengan tatapan menuntut namun juga berhati-hati, disatu sisi gadis itu ingin mendapatkan jawaban atas segala rasa penasarannya selama ini namun disatu sisi ia juga tidak ingin menyakiti perasaan lelaki itu dengan tuntutannya.
“Apa yang kamu tahu?” Bukannya menjawab Raffi malah balik bertanya, mata itu menatapnya namun hampa.
Cherry terdiam cukup lama, apa yang kamu tahu? Ah, bukankah ia bertanya karena ingin tahu? Mungkin, mungkin ia memang tahu namun bukan dari mulut Raffi dan disini yang ingin ia dapatkan adalah pernyataan dari sumber orangnya langsung, haruskah ia menjawab?
“Kenapa diam?” tegur Raffi saat pertanyaannya tak kunjung mendapat jawaban dari Cherry.
“Aku udah nutup mata dan telinga aku untuk semua orang yang bicara tentang kamu, jadi tolong jelasin...” jelas Cherry dan meminta Raffi untuk menjawab pertanyaannya.
Raffi tersenyum sesaat sambil sesekali menghela nafas, lelaki itu menundukan kepalanya menatap kakinya yang entah dengan sengaja atau tidak melakukan gerakan-gerakan kecil di tempatnya, membuat Cherry menatapnya tak sabar.
“Fi…”
“Ya?” Raffi mengangkat kepalanya.
“Tolong katakan sesuatu… bilang kalau yang selama ini aku denger bohongkan?” cetus Cherry akhirnya, gadis itu tahu membuat Raffi bicara sekarang merupakan sesuatu yang sulit.
“Gimana kalau aku bilang semua itu bener?” Raffi kini malah balik bertanya, ia menatap Cherry dengan tatapannya yang tampak berbinar namun sendu.
Kini giliran Cherry yang dibuatnya terdiam, gadis itu hanya menatap Raffi mencoba mencari celah dimata lelaki itu namun sialnya ia tidak dapat menemukan apapun, salah satu hal yang tidak pernah berubah dari lelaki itu misterius, tersembunyi.
“Hmm? Apa yang bakal kamu lakuin kalau semua itu bener?” Raffi mengulang pertanyaannya seakan menyadarkan Cherry dari segala lamunan dan hipotesis-hipotesisnya. “Tatap mata aku sepuasnya, kalau itu bisa bikin kamu dapet jawabannya,” gumam Raffi sambil tersenyum dan menatap Cherry lekat. Cherry dibuatnya gugup namun gadis itu tetap melakukan apa yang diminta lelaki di hadapannya itu, Cherry menatap Raffi dengan lekat. Beberapa saat hingga akhirnya gadis itu menggelengkan kepalanya menyerah dan menundukan kepalanya sesaat melepas pandangan dari Raffi.
“Terakhir kali aku coba mempercayai tatapan kamu, setelah itu kamu hilang dan aku enggak mau kamu gituin aku lagi,” ucap Cherry, gadis itu menghembuskan nafasnya lelah lalu kembali mengangkat kepalanya.
Raffi tertawa mendengarnya, lalu berujar dengan santai, “bukannya kamu yang ninggalin aku? Lucu yah, kita sama-sama ngerasa ditinggalin,” ia menggelengkan kepalanyaa tak habis pikir.
“Fi…”
“Seandainya aja aku tahu kalau kamu ngerasa kaya gitu, aku mungkin enggak akan mundur dan menjauh, aku mungkin enggak akan merasa tersiksa dengan segalanya,” ujar Raffi. “Aku bahkan mungkin akan terselamatkan…” nada suara Raffi melemah di ujung kalimatnya, yang tanpa sadar telah menyentak Cherry dengan perlahan.
“Apa… apa maksud kamu semua… semua yang terjadi itu bener? Apa yang mereka bilang itu nyata?” Cherry mengucapkan kalimat itu dengan susah payah, ia menatap Raffi tak percaya.
“Kalau kamu saat itu ada disisi aku kamu pasti akan cegah aku kan? Kamu enggak akan ngebiarin aku ngelakuin itukan?”
“Fi… jadi kamu…”
Raffi mengangguk-nganggukan kepalanya seakan membenarkan sesuatu yang bahkan belum keluar dari mulut Cherry, “ya, aku nabrak wanita jalang itu, dia udah ngancurin hidup Mama dan sekarang, dia ngancurin hidup aku…” ucap Raffi suara lelaki itu bergetar saat menceritakannya.
Cherry menatap Raffi terkejut, ia memang sudah mendengar hal itu dari mulut lain namun mendengarnya langsung dari Raffi sungguh masih membuatnya sangat terkejut.
“Fi…” Cherry mendekat dan menyentuh pundak lelaki itu mencoba untuk menenangkannya.
Raffi mengangkat  kepalanya yang sejak tadi tertunduk membuat Cherry dapat melihat dengan jelas bagaimana mata lelaki itu memerah.
“Mimpi aku hancur Cher, aku di tahan, sekolah aku berantakan, aku enggak tahu lagi harus kaya gimana… hidup aku semuanya… hancur…”
Cherry tercengang melihat bagaimana untuk pertama kalinya lelaki itu, seorang Raffi menangis di hadapannya, bersikap jujur tanpa menutup-nutupi perasaan yang ia miliki sebenarnya. Menunjukan sisi rapuh dibalik ketegarannya selama ini.
“Hidup kamu sekarang mungkin lagi hancur, tapi kamu masih punya waktu untuk memperbaiki segalanya, ini belum berakhir, semuanya masih bisa berubah…” ujar Cherry.
“Kehidupan apa yang pantas buat seseorang yang bahkan hampir aja menghilangkan nyawa orang lain…” Tanya Raffi yang lebih terdengar seakan sudah pasrah dengan kehidupannya sekarang.
“Percaya sama aku… kamu bisa, kita bisa,” ucap Cherry.
“Aku bisa percaya sama kamu, tapi apa orang-orang masih bisa percaya sama aku?”
Cherry menyentuh lengan Raffi perlahan dan menggenggamnya dengan erat, lalu menatap lelaki itu dengan lekat mencoba untuk meyakinkannya, “Jangan khawatir, kamu enggak sendiri, ini aku, aku disini buat kamu. Percayalah, disaat enggak ada satu orangpun yang percaya sama kamu dan kamu percayai, aku adalah orang yang akan selalu ada dibelakang, menjadi orang yang akan mendukungmu sepanjang hayatku…”
Raffi menatap gadis dihadapannya itu, lalu tersenyum perlahan, “kamu selalu membuat aku merasa beruntung menjadi orang pertama yang kamu cintai…” ucap Raffi. “Tapi sekarang… ah… dia yang akan menjadi cinta terakhir kamu jauh lebih beruntung,” ucap Raffi mulai kembali dengan sikap awalnya, penuh canda.
“Sekarang cukup lakuin yang terbaik, kamu masih jadi kandidat kuat untuk aku cintai sampai akhir kok,” ucap Cherry sambil tersenyum.
“Karena kamu sekarang udah disisi aku lagi aku rasa aku bisa memperbaiki segalanya,” ucap Raffi dengan yakin.
“Waktu akan berjalan dengan cepat dan kita enggak akan pernah tahu perubahan apa yang akan terjadi selama waktu itu berjalan, jadi cukup lakukan yang terbaik!” seru Cherry tak henti-hentinya membuat Raffi merasa beruntung dengan kehadiran gadis itu di hidupnya. Ia akan berjuang, dan memastikan bahwa ia pantas untuk menjadi cinta pertama dan terakhir bagi gadis itu, terlepas dari apapun yang kini terjadi.

_END_

Kita: Kau, Aku, dan Dia



Kita: Kau, Aku, dan Dia

Kita, bukankah masih tentang kau dan aku?
Tentang cintamu dan cintaku
Tentang rindumu dan rinduku
Tentang kasihmu dan kasihku
Tentang dukamu dan dukaku
Tentang sukamu dan sukaku
Tentang lukamu dan lukaku
Begitulah yang selama ini ku tahu
Sebelum dia datang,diam-diam menyusup
Masuk pada celah-celah rindu
Yang kita tinggalkan tanpa temu
Dimana kau sibuk dengan duniamu
Dimana ku sibuk dengan duniaku
Kita tahu, kita butuh
Tapi jarak tak biarkan kita bersatu
Sementara dia siap menjadi bahu
Kala hati dilanda rindu yang pilu
Mengisi sepi yang tabu
Diantara kau dan aku

03 Desember 2016
#30DWC Jilid 3 hari ke 3

Tentangku

Tentangku

Tentangku yang menunggu tanpa diberi waktu
Tentangku yang bertahan tanpa diperjuangkan
Entah harus berapa musim yang berlalu
Entah sudah berapa masa yang terlewatkan
Menunggu terlalu memakan waktu
Bertahan sungguh amat melelahkan
Untukmu yang selalu ada dalam doaku
Tak adakah niatan untuk memperjuangkan

02 Desember 2016

#30DWC Jilid 3 hari ke-2

J.E.N.U.H

J.E.N.U.H

Maaf atas sikapku kali ini
Aku hanya sedang tidak tahu kata yang tepat
Untuk mendeskripsikan perasaanku sekarang
Aku merasa bahagia tapi tidak terlalu
Aku merasa sakit tapi tidak memiliki
Alasan kuat untuk merasakannya
Aku rindu tapi tak begitu ingin bertemu
Aku marah tapi tak tahu cara meluapkannya
Aku...ah entahlah
Mungkin kaupun pernah merasakannya
Mereka bilang aku jenuh
Jika benar maka ya kukatakan padamu
Aku jenuh pada dirimu
Aku jenuh pada diriku
Aku jenuh pada kita, kau dan aku


01 Desember 2016
#30DWC Jilid 3 hari ke-1

Senin, 01 Februari 2016

Happy birthday (Fanfiction)

Ini cuma sebuah imaginasi untuk membahagiakan seorang teman, meskipun berhrap suatu saat ini jadi nyata dan sahabatku itu jadi happy beneran wkwk, enjoy this guys, satu lagi jangan baper!

Lets reading!!!

 
Seorang gadis tampak menatap handphone yang ada dalam genggamannya, yang sejak beberapa menit lalu terus saja berbunyi menandakan banyaknya sms yang masuk, bahkan ada juga telepon dari beberapa sahabatnya. Bukan hanya itu, dinding facebook mau pun mention ditwitternya tak urung mendapatkan kiriman dari orang lain. Isinya sama ucapan selamat ulang tahun atas kelahirannya yang ke-17. Hufftt senangnya ternyata banyak juga yang perhatian, gumam gadis bernama Zhura dalam hatinya.
Ia merasa senang tapi di sisi lain ada berjuta-juta rasa kesedihan dan kekesalan yang hinggap dihatinya.
"Aliando nyebelin!" gerutunya kesal seraya melempar begitu saja handphonenya. Untungnya hanya diatas kasur.
Dari puluhan sms, beberapa miscall, banyaknya kiriman di dinding facebook dan mention di twitter, tidak ada satu pun nama Aliando. Sama sekali tidak ada. Padahal seharusnya sebagai kekasih Aliando bisa menjadi pengucap pertama di sweet seventeennya, sayangnya tidak ada. Zhura mengerti Aliando memang seorang selebriti, tapi setidaknya dia bisakan meluangkan beberapa menit atau bahkan detik untuk sekedar mengingat hari ulang tahunnya?
Zhura hanya bisa menghela nafas lelah.
"Giliran Gina aja bela-belain ngucapin malem-malem, sampe ngenomorduain Alicious, eh bagian gue? Apa banget sih!" Zhura kembali menggerutu kesal, ia memukul-mukul bantalnya menumpahkan kekesalannya.
Zhura pun kembali mengambil handphonenya yang sempat menjadi korban kekesalannya juga. Ia menatap lekat dan tajam layar handphonenya hingga akhirnya berteriak, "DEMI APA LO NYEBELIN BANGET! GUE BENCI LO ALIANDO!!!"
Bunyi kresak krusuk terdengar tak lama setelah Zhura berteriak seperti itu. Hingga seseorang membuka pintu kamarnya yang tidak dikunci.
"Zhura kenapa?" tanya mamahnya yang berdiri diambang pintu menatap Zhura khawatir.
"Ada maling? Mana malingnya?" kini giliran papahnya yang bertanya, matanya berkeliling menatap kesegala penjuru kamar Zhura.
"Iyah ada!" jawab Zhura asal, udah kepalang lagian dia juga sih lupa kalau ini malem-malem yaudah sekalian aja.
"Hah? Kemana malingnya? Mana?" papah Zhura masuk kedalam kamar lalu melihat kearah jendela berusaha mencari 'maling' yang dibilang Zhura.
"Tapi enggak ada yang keambilkan?" tanya mamahnya.
"Ada," jawab Zhura singkat.
"HAH? APA?"
"Hati! Udah diikhlasin dicuri, eh malah enggak dijaga baik-baik, nyebelin banget kan tuh maling?"
Mamah dan papah Zhura cuma melongo dibuatnya.
"Apaan sih?" tanya Zhura risih menatap pandangan seperti itu dari kedua orang tuanya. "Udah ah sana, Zhura mau tidur!" seru Zhura mengusir orang tuanya sendiri dari kamar. Tanpa peduli Zhura menutup tubuhnya menggunakan selimut sampai kepala, mencoba untuk memejamkan matanya.
"Terus malingnya mana?" tanya mamah Zhura bingung. Mereka pun kembali kekamarnya.

***

"Stop!!!" Zhura berlari tak tentu arah, yang jelas tujuannya sekarang adalah kabur dari kejaran teman-temannya. Ada yang membawa telur, air, terigu bahkan terasi.
"Arrghh!" pekik Zhura histeris waktu salah satu temannya berhasil mendaratkan sebutir telur dengan mulus diatas kepalanya. Setelah itu terigu, air bersusulan hinggap membasahi tubuhnya. Teman-temannya hanya tertawa puas.
"Enggak mau! Kalian juga harus kena!" Kini giliran Zhura yang mengejar teman-temannya dengan beringas, berniat untuk balas dendam. Caranya tentu saja dengan memeluk mereka dan menularkan kotoran dibadannya. Teman-temannya langsung berlarian, kabur.
Ini adalah hari minggu tepat dua hari setelah hari H ulang tahun Zhura, mereka sedang merayakan ulang tahun Zhura dengan makan-makan dan sekarang sitambah dengan acara 'sebor-seboran(?)'.
"Ka, ada telepon nih!" seruan adik Zhura menghentikan aksi gadis itu seketika. Teman-temannya menghela nafas lega.
"Dari siapa?" teriak Zhura, balas bertanya.
"Bang Ali!"
Mendengar nama itu disebut Zhura langsung cemberut. "Biarin aja!"
"Jawab aja kali Zhu!" seru salah satu temannya.
"Enggak mau! Salah siapa dia lupa ulang tahun gue!"
"Yeee... Siapa tau dia inget tapi enggak ada waktu, jadinya baru sempet sekarang. Udah deh, enggak usah gengsi! Jawab aja, lo kan kangen sama dia!"
"Plus ngarep!" timpal yang lainnya.
Mendengar saran dari teman-temannya Zhura pun mengambil handphone dari tangan adiknya dan mulai mengangkat Video-call dari Aliando, kekasihnya.
"Selamat pagi...," sapaan Ali langsung tercekat saat melihat wajah Zhura yang super berantakan plus ancur banget gara-gara kerjaan temen-temennya. Beda banget sama penampilannya yang fresh dan kece badai. "Hahaha..." lelaki itu malah tertawa terbahak-bahak.
Zhura cemberut. Ia juga mengernyit bingung waktu mendengar ada suara tawa lain disana. Ah mungkin perasaannya saja. Zhura tak peduli.
 "Apa? Enggak usah ketawa!" ketusnya. "Ngapain nelpon?" tanyanya. Padahal dalam hati senengnya bukan main.
"Kangen aja," jawab Ali simple.
"Hah? Kangen? Ohh...baru kangen sekarang ternyata, kemana aja kemarin-kemarin?" sindir Zhura. Temen-temennya malah cekikikan mendengarnya. Aksi teleponan Zhura dan Aliando seakan menjadi tontonan gratis bagi mereka.
"Ya maaf, tahu sendirikan gimana sibuknya pacar lo ini? Namanya juga artis terkenal!" jawab Ali pede, disambut tawa-tawa dibelakangnya.
"Pede!" tukas Zhura. "Eh, lo dimana sih? Kok rame banget kayanya," tanyanya kemudian.
"Ada deh!"
Zhura menatap kesal ekspresi wajah Ali yang mencoba menggodanya dari layar handphone, benar-benar menyebalkan!
"Terserah deh! Sekarang ada yang mau lo omongin enggak?" tanya Zhura berharap Ali mau mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya, atau setidaknya bilang maaf karena telah melupakan hari bersejarah dalam hidupnya itu.
Ali menggelengkan kepalanya, "enggak ada," jawabnya singkat.
"Seriusan?" tanya Zhura menatap Ali tak percaya.
"Dua rius," jawab Ali sambil tersenyum manis.
"Ikht, demi apa lo keterlaluan banget tahu enggak! Nyebelin! Pikun! Enggak care! Sombong! Pokoknya ngeselin!" Zhura mengomel panjang lebar.
Bukannya merasa takut atau apa Ali malah tertawa hebat mendengarnya.
"Gue emang enggak mau ngomong apa-apa, tapi gue punya sesuatu buat lo!" ucap Ali kemudian.
"Hah?"
Tanpa menghiraukan wajah heran Zhura Ali menjauhkan layar handphonenya lalu menampilkan banyak orang yang sejak tadi ada bersama Ali, mereka tampak tersenyum puas.
"Happy birthday Zhura, happy birthday Zhura, happy birthday happy birthday happy birthday pacar Ali!!!" mereka bernyanyi bersama-sama untuk Zhura, Ali juga ikut bernyanyi. Mereka lalu tertawa saat melihat ekspresi Zhura yang shocknya bukan main.
"Mereka siapa?" tanya Zhura.
"Tuh ditanya, katanya kalian siapa?" Ali balik bertanya pada sekumpulan orang yang rata-rata perempuan.
"We are Alicious!" jawab mereka kompak.
"Hah?" Zhura terkejut. Ia baru ingat kalau sekarang adalah hari digelarnya meet and great Aliando di Bekasi. Wajahnya merah padam, malu.
"Nah kalau yang itu yang jelek, ancur, kotor dan enggak banget dia pacar aku!" jelas Ali pada fansnya itu, yang langsung disambut 'ohh' ria dari mereka.
Zhura sebel dibilang yang jelek-jelek sama Ali, tapi disisi lain dia senang karena ternyata Ali mau mengenalkannya pada fansnya.
"Happy birthday Zhura-ku, wish wish you all the best, aku cuma berharap semua harapan orang-orang buat kamu dapat tercapai, semuanya! Dan yang terpenting kamu bisa tetep jadiin aku dunia kamu!" ujar Ali kemudian.
Zhura terharu mendengarnya.
"I Love you so much more and more and more...," sambungnya seraya memberikan kiss lewat handphone. Zhura tertawa melihatnya.
Fans-fans Ali tampak berseru iri, melihat bagaimana Ali begitu romantis memperlakukan kekasihnya.
"Makasih," hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut Zhura.
Ali hanya tersenyum membalasnya. Setelah mengucapkan pamit mereka pun memutuskan sambungan teleponnya. Senyuman manis tak dapat lepas dari bibirnya.
"Pulang yuk pulang!" seru salah satu temannya menyadarkan Zhura.
"Iya nih, lagian kalau ada Ali kita udah enggak penting juga!"
"Ayo pulang!"
"Ikht apaan sih? Jangan gitu dong!" pekik Zhura mencegah.
"Enggak ah mau pulang aja, dari pada jadi obat nyamuk, teleponan aja terus teleponan!"
"Kita pulang! Kita pulang!"
"JANGANNN!!!" teriak Zhura.
"Hahaha..." teman-temannya tertawa.


End

He is Mine! (Fanfiction)

Title : He is Mine!
Main Cast : Azzhura - Aliando
Genre : Hurt, romance
Length : Oneshot
Author : Chera Lee

***
Sebenernya ini fanfict requestan dari sahabatku yang ngefans banget sama Aliando, so enjoy yah buat kalian alicious and all readers, I hope you like it!

"Udah lihat infotainment?" tanya seorang lelaki bule.
"Tentang apa?" heran gadis berponi balik bertanya.
"Pacar kamu!"
Gadis itu terdiam, lalu mengangguk pelan.
"Kamu diem aja?"
"Memangnya aku harus ngapain?"
"Marah lah! Bodoh banget kalau cuma diem kaya gini! Enggak sakit apa?"
"Dia bilang itu bukan apa-apa, lagian media massa aja yang terlalu lebay!"
"Hey! Media massa enggak akan berlebihan kaya gitu kalau mereka enggak mulai duluan! Enggak akan ada asap kalau gak ada api!" tukas sang lelaki dengan emosi yang menggebu-gebu, heran sekali dengan sikap sok tidak apa-apanya gadis di depannya itu.
"Udah ah, ngapain sih ka Epam bahas Ali? Enggak ada kerjaan banget!"
"Enggak ada kerjaan kamu bilang? Hey Azzhura jangan jadi cewek bodoh, apa kamu enggak bisa lihat gimana mesranya pacar kamu sama si Latuconsina? Semua orang bisa lihat ada sesuatu diantara mereka."
Zhura terdiam, kalau sudah begini ia harus bilang apa? Sedangkan matanya juga melihat semua yang terjadi antara Ali-pacarnya dengan Prilly lawan mainnya yang akhir-akhir ini selalu menjadi bahasan infotainment. Tapi ia bisa apa? Semua orang bahkan tak tahu siapa dia, dia tidak mungkin kan bilang kalau dia pacarnya Aliando si aktor super ganteng itu? Siapa yang bakal percaya? Yah, kecuali Ali sendiri yang bilang, tapi Ali tidak akan sebodoh itu untuk menghancurkan karirnya yang baru saja menemukan puncaknya. Jadi, sekarang ia memang harus bersabar ya, bersabar.
"Mereka sahabatan, enggak lebih," ucap Zhura memberikan pembelaan.
"Oh ya? Apa iyah semua sahabat harus punya cincin couple? Dan gue baru tahu sahabat juga ternyata harus ngerayain annive yah? Waw, persahabatan yang romantis!" ucap Stefan dengan nada bicara yang dibuat-buat takjud, diakhiri dengan tepuk tangan.
Zhura terdiam, ia tidak tahu harus mengatakan pembelaan apalagi sementara semua yang diucapkan oleh pacar kakak sepupunya itu benar, sangat benar. Dan itu membuat matanya memanas dan perih, sesak dihati yang selama ini sering datang kini kembali ia rasakan.
"Aku percaya sama Ali," ucap Zhura akhirnya seraya menghapus dengan kasar air yang sudah menggantung di pelupuk matanya. Stefan tercengang melihatnya, sepertinya kata-katanya sudah sangat keterlaluan.
"Epam kamu apain Zhura?" tanya Yuki yang akhirnya datang setelah selesai berganti pakaian. Ia menatap Zhura khawatir lalu mengalihkan pandangannya pada Stefan dengan tajam. Stefan dibuatnya gugup.
"Aku... Aku... Aku cuma nasihatin dia supaya enggak jadi cewek bodoh yang diem aja ngeliat pacarnya mesra sama cewek lain, itu aja suer deh!" jelas Stefan seraya mengangkat kedua jari tangannya membentuk huruf V.
"Enggak usah nasihatin Zhura, aku juga pernah ada di posisinya," tukas Yuki.
"Hah?"
"Serius?"
Tanya Stefan dan Zhura hampir bersamaan.
"Iyah lebih parah malahan," gumam Yuki.
"Kapan? Siapa yang berani nyakitin kamu? Aku hajar dia!" ucap Stefan dengan menggebu.
"Hajar aja diri kamu sendiri!" ketus Yuki.
"Maksud kamu?" Stefan mengernyit heran.
"Waktu dulu sebelum kita jadian, aku bahkan enggak pernah tahu kapan kamu akan minta aku jadi pacar kamu, kamu selalu ngasih harapan buat aku, sementara kamu jadian sama Aril, sama Wilona dan bahkan deket sama cewek lain. Dan aku enggak ngapa-ngapainkan? Aku bersikap biasa seakan aku baik-baik aja, ceria, padahal kamu tahu hati aku? Sakit..." Yuki memegang hatinya menunjukan tepat dibagian mana ia selalu merasa sakit, mengeluarkan semua beban dihatinya selama ini.
"Dengerin tuh kak!" seru Zhura seraya tersenyum puas, kesedihannya hilang entah kemana melihat wajah Stefan yang sekarang pucat pasi. "Rasain!" ejeknya dalam hati.
"Maaf..." ucap Stefan menyesal.

***

"Nda... Aku bawain cake buat kamu nih!" seru Ali seraya menyerahkan sebuah cake bertabur coklat tebal kepada Zhura-kekasihnya.
Zhura tersenyum, "makasih yah, padahal kamu enggak perlu loh repot-repot kaya gini," ucap Zhura.
"Enggak apa-apa kan buat pacar aku," ucap Ali.
"Gombal!" tukas Zhura tersipu. "Gimana shooting hari ini? Tumben pulang cepet?" tanyanya.
"Selalu sangat melelahkan, pak sutradara lagi baik!" jawab Ali seraya menyandarkan tubuhnya pada sofa empuk rumah Zhura.
"Hmm... Bagus dong," gumam Zhura tersenyum.
"Nda tahu enggak? Tadi itu kak Syahilla romantis banget, dia dateng ke lokasi shooting dan suapin kak Kevin pake makanan buatannya sendiri, bikin iri..." cerita Ali. "Seandainya kamu bisa dateng kesana yah, pasti aku bisa lebih semangat," sambung Ali.
Zhura menyentuh tangan Ali dan memandang kekasihnya itu dengan iba, "jujur aku mau banget kaya mereka, tapi kamu tahu sendiri kan keadaannya? Maafin aku yah..."
"Enggak, kamu enggak seharusnya minta maaf, ini salah aku sendiri yang enggak bisa ngasih tahu ke media kalau kamu pacar aku."
"Jangan... Jangan pernah kasih tahu media, ini belum saatnya..."
Ali memandang Zhura lembut lalu mengacak puncak kepala Zhura dengan sayang, "terima kasih untuk selalu ngertiin aku," ucapnya.
"Selamanya akan seperti itu..." ucap Zhura sambil tersenyum.

***

"Loh kak, kita mau kemana? Setahu aku ini bukan jalan ke lokasi shootingnya kak Yuki," tanya Zhura heran, ketika Stefan belok di arah yang salah menurutnya.
"Iyah, gue tahu. Gue mau ke Kevin dulu nih, mau ngasihin snapbacknya yang gue pinjem, udah janji mau balikin hari ini soalnya," jelas Stefan.
"Oh gitu," gumam Zhura. "Itu artinya ke lokasi shooting GGS dong?"
"Iyalah kemana lagi," tukas Stefan.
Selanjutnya suasana menjadi hening, keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Dan tak terasa akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Stefan bergegas keluar dari mobil namun beberapa detik kemudian ia kembali melihat tak ada tanda-tanda Zhura akan keluar dari mobilnya.
"Enggak keluar? Enggak mau ketemu pacar?" tanya Stefan.
Zhura menggelengkan kepalanya. "Enggak ah, aku tunggu disini aja," tolaknya.
"Okey kalau gitu," Stefan mengangguk paham dan bergegas meninggalkan Zhura ia berjalan memasuki area shooting.
Langkahnya sempat terhenti sejenak ketika ia melihat Ali dengan Prilly tengah bercanda sambil berjalan beriringan.
"Hey, kak! Tumben kesini ada apa?" sapa Ali. Sementara Prilly hanya tersenyum.
Stefan tersenyum, "gue mau ketemu Kevin, dia ada kan?"
"Iyah ada, kesana aja!" seru Ali menunjuk ke tempat dimana Kevin berada.
"Okey thanks!" ucap Stefan, dan melanjutkan langkahnya.

***

"Di dalem panas yah," gumam gadis berbibir tipis seraya menggerak-gerakan tangannya sebagai kipas.
"Halah, bilang aja lo iri!" tukas lelaki disampingnya seraya mengacak rambut gadis itu dengan kasar.
"Ali kebiasaan banget sih!" marah gadis yang tak lain adalah Prilly. "Iyah gue iri, emangnya lo enggak iri apa? Kak Kevin, Kak Kirun, Dahlia, kak Michelle, pada dibawain makanan sama pacarnya, lah gua? Pacar aja kagak punya!"
Aliando tertawa keras mendengar gerutuan Prilly dan lagi-lagi ia mengacak rambut gadis itu dengan gemas.
"Aliii..." pekik Prilly kesal.
"Udah ah, lo enggak usah ngomel-ngomel mulu, kan ada gue kita kan bisa makan bareng!" ucap Ali menghibur.
"Halah! Kita kan cuma sebastian! Lo PHP-in gue mulu!"
"Terus lo maunya dapet kepastian dari gue gitu? Gue pikirin nanti deh, sekarang pikirin perut dulu nih udah laper berat! Ayok!" Ali merangkul bahu Prilly dan mereka berjalan beriringan meninggalkan lokasi shooting. Keduanya tidak menyadari bahwa dibalik kaca mobil ada sepasang mata yang terus mengawasinya.

***

Blaakk!
Stefan masuk kedalam mobil dan menutup pintunya dengan sekali hentakan.
"Gue ketemu pacar lo sama sahabatnya tadi, lo ketemu dia?" tanya Stefan kepada Zhura.
Namun Zhura tak menjawab matanya terpejam.
"Zhuraa enggak usah tiduran kaya gitu deh, kakak tahu kamu cuma tidur-tidur ayam kan? Bangun deh!" sahut Stefan seraya mulai menjalankan mobilnya.
"Ketahuan deh," gumam Zhura yang akhirnya membuka matanya juga.
"Ketemu Ali enggak?" tanya Stefan lagi.
"Kakak enggak bilang aku ikut kan?" bukannya menjawab Zhura malah balik melontarkan pertanyaan.
"Enggak," jawab Stefan seraya menggelengkan kepalanya.
"Bagus deh," gumam Zhura.
"Jadi kamu enggak ketemu mereka?" tebak Stefan. Lelaki itu mendengus ketika Zhura menganggukan kepalanya.
"Tapi lihat kan?"
Lagi-lagi Zhura mengangguk.
"Dasar gadis bodoh, lihat pacar sendiri sama yang katanya sahabat tapi mesra itu malah didiemin! Heuh!" cibir Stefan. Itu kenapa tadi Zhura berpura-pura tidur ayam karena Stefan pasti akan mengejeknya seperti ini.
Zhura hanya terdiam dan mengalihkan pandangannya keluar jendela. Ia tidak ingin Stefan mengetahui bahwa sekarang matanya berkaca-kaca. Jangan sampai.

***

"Nda...sorry a-ku te-lat, tapi di lo-kasi ada scene yang susah banget, maaf yah..." ucap Ali dengan nafas yang terengah-engah.
Zhura yang telah menunggunya hampir satu jam hanya bisa menghembuskan nafas dengan kasar, "enggak usah minta maaf, biasanya juga beginikan?" tukasnya.
"Maaf...," Ali menatapnya penuh penyesalan dan lagi-lagi hanya kata maaflah yang keluar dari mulutnya.
"Yaudahlah enggak usah dibahas," ucap Zhura malas. "Kamu mau makan apa?" tanya Zhura lagi. Saat ini mereka sedang berada di kedai sederhana milik Zhura sendiri, yang mulai ia kelola bersama Yuki saat ia lulus SMA tiga bulan yang lalu, ya, berbisnis sambil kuliah.
"Sachertorte aja deh," jawab Ali. Sachertorte adalah cake cokelat yang diberi isi selai aprikot dan krim kocok.
"Okey, aku buatin dulu yah," seru Zhura seraya berlalu meninggalkan Ali.
Setelah beberapa saat gadis itu pun kembali dan membawa sachertorte di tangannya.
"Hmm, enak banget kayanya," ucap Ali seraya menatap makanan pesanannya dengan antusias.
"Pasti dong! Siapa dulu yang buat!" Zhura membanggakan dirinya sendiri.
"Pacar aku dong!" seru Ali sebelum akhirnya menyantap cake coklat itu.
Zhura tertawa kecil mendengarnya.
"Hmm... Ada yang mau aku tanyain," gumam Ali setelah makanannya berisi setengah lagi.
"Apa?" tanya Zhura heran.
"Tadi siang kamu ke lokasi shooting yah?"
Mendengar pertanyaan Ali seketika senyuman dibibir Zhura hilang, wajahnya datar.
"Kata siapa?" tanyanya lagi.
"Kevin, dia bilang tadi Stefan ke lokasi shooting bareng sepupunya Yuki, siapa lagi kalau bukan kamu?" jelas Ali sekaligus bertanya.
"Iyah emangnya kenapa? Enggak boleh? Toh aku enggak ganggu kamu sama si sahabat kamu itu kan?" sewot Zhura.
"Loh kok kamu ngomongnya gitu sih?" tanya Ali menatap Zhura heran.
"Aku cape," ucap Zhura malas. "Cape mata, cape hati," sambungnya tanpa berani menatap Ali.
"Nda..." Ali menyentuh tangan Zhura dan Zhura menjauhkan tangannya dari Ali.
"Apa yang kamu liat disana?" tanya Ali.
"Kamu berharap aku enggak liat apa?" Zhura menatap Ali. "Itu yang aku liat!" sambungnya seraya membuang muka, entah mengapa membahas ini membuat hatinya tiba-tiba merasa sakit kembali dan matanya lagi-lagi terasa perih.
"Nda maafin aku..." Ali kembali berusaha menyentuh tangan kekasihnya itu. Jika Zhura sudah seperti ini itu artinya apa yang ia lihat benar-benar telah melukainya, apalagi kalau bukan ketika ia bersama Prilly. Heuh! Ali hanya bisa menghela nafas lelah.
"Enggak usah minta maaf, telinga aku terlalu bosan buat ngedenger kata-kata itu," tukas Zhura malas. "Aku ke toilet dulu!" serunya seraya bangkit berdiri dan meninggalkan Ali begitu saja.
Sesampainya di toilet tangis yang sejak tadi ditahannya kini tak dapat lagi ia sembunyikan. Gadis itu menutup mulutnya dengan tangan, agar isak tangisnya tidak terdengar oleh orang lain.
Bohong bila ia tidak cemburu, bohong jika ia tidak kecewa, bohong jika ia bilang ia baik-baik saja. Padahal pada saat itu ia sedang berada dititik paling terluka, dan benar ia adalah gadis bodoh, sangat bodoh menganggap semuanya tidak ada apa-apa.
Heuh! Gadis itu menghela nafas panjang, lalu menghapus air matanya dengan kasar dan dengan segera memperbaiki penampilannya. Ia harus segera kembali kehadapan Ali sebelum lelaki itu curiga.

***

"Nda kamu baik-baik aja?" tanya Ali saat Zhura datang dari toilet.
Zhura mengangguk lalu tersenyum tipis, "selalu baik," ucapnya. Lihat, lagi-lagi ia berbohong.
Ali menyentuh tangan Zhura, kali ini lelaki itu menggenggam tangannya dengan erat ia tidak ingin Zhura kembali menepis tangannya.
"Aku tahu kamu sakit, kamu terluka, kecewa, bahkan cemburu, aku tahu itu dan maaf kalau selama ini aku enggak bisa berbuat apa-apa. Tapi mulai sekarang kamu enggak masalahkan kalau punya banyak pengganggu?" tanya Ali seraya menatap Zhura tepat dimatanya.
"Hah? Maksud kamu?" tanya Zhura heran.
Ali menatap Zhura lekat. "Mulai sekarang kamu harus tutup telinga, mata dan hati kamu jangan pernah dengerin apa kata oranglain tentang hubungan kita, karena mereka enggak tahu apa-apa, cuma kita yang tahu jadi kamu hanya perlu percaya sama aku bahwa aku cinta kamu dan cuma kamu yang pantas buat aku gimanapun aku sekarang dan nantinya, cuma kamu..."
Zhura menatap Ali semakin bingung, namun beberapa detik kemudian matanya terbelalak lebar. "Bia...jangan bilang kamu..."
Zhura mengambil handphone Ali yang sejak tadi ada diatas meja. Matanya membesar dan ia menutup mulutnya terkejut, home twitter langsung ia lihat disana terpajang fotonya bersama Ali dan disana pula Ali menulis.

"Mungkin sekarang kalian bertanya siapa gadis yang ada disampingku ini? Dan dengan senang hati aku akan memberi tahu kalian sekarang juga... Dialah orang itu, dialah kebahagiaan itu, dialah rasa sakit itu dan jika semua itu menghilang, aku fikir aku juga akan menghilang... Jadi kumohon jika kalian masih ingin melihatku jangan pernah sakiti dia jangan pernah biarkan gadisku ini menghilang dari hidupku, maafkan aku, aku sangat mencintainya."

Zhura menatap Ali dan handphonenya bergantian dengan tatapan tak percaya. Benar dugaannya, Ali telah mempublikasikan hubungan mereka berdua sekarang.
"Bia kamu..." Zhura tak dapat berkata apa-apa.
Ali tersenyum sangat manis, "enggak apa-apa aku cuma pengen mereka tahu kalau aku milik kamu, I'm yours nda..."
Zhura tersenyum haru mendengar semua ucapan Ali matanya tampak berkaca-kaca, meski begitu ia tersenyum. Ia tahu setelah ini hidupnya akan berubah, semua orang akan tahu siapa dirinya, ia harus menyiapkan hati, mata dan telinga yang ekstra mulai sekarang dan ia sudah siap. Ali saja sudah bisa memberitahukan dirinya kepada semua orang, dan ia pasti bisa menghadapinya.
"World! He is mine!!!" ingin rasanya Zhura berteriak seperti itu namun hanya bisa ia beritahukan lewat senyuman lebar yang kini tercipta dibibirnya. Gadis itu menggenggam lengan Ali dengan erat, mata keduanya saling bertatapan, menciptakan kehangatan yang luar biasa disana. Cinta bertebaran disekitar mereka.
"Terima kasih..." bisik Zhura pelan dan Ali hanya tersenyum mulai sekarang ia tidak akan membiarkan gadisnya tersakiti.

***

End


Jumat, 08 Januari 2016

Take a Shoulder (Fanfiction)

Title : Take a Shoulder
Main Cast : Jang Wooyoung ~ Bae Suzy
Genre : Romance
Length : OneShot
Author : Chera Lee

Sebenernya ini udah dibikin lama cuman baru berani di post aja , semoga suka yah! :)

Happy Readings...

"Oppa!" Suzy sedikit berteriak saat melihat Wooyoung sudah menunggunya di rooftop JYPent Building.
Seulas senyuman manis di persiapkan Wooyoung untuk menyambut kekasihnya itu. Suzy membalas senyuman itu tak kalah manis, gadis itu berjalan mendekat ke arah Wooyoung lalu duduk di sampingnya. Hanya dengan melihat Jang Wooyoung semua kelelahan Suzy hilang begitu saja. Lenyap bersamaan dengan angin malam yang berhembus.
"Oppa..." ucap Suzy manja ia menyandarkan kepalanya di pundak Wooyoung. "Apa kau lelah?" tanya Suzy ikut menyandarkan kepalanya di kepala Suzy. "Ku pikir tak ada pekerjaan yang tak melelahkan," gumam Suzy.
"Kau benar Suzy ya!"
"Seharusnya aku bertanya padamu apa kau lelah? Kau baru saja datang dari Jepang tapi sudah harus menemuiku disini," ujar Suzy. "Tadinya aku lelah tapi saat melihatmu semuanya hilang begitu saja," ujar Wooyoung membuat Suzy sedikit tersipu. Wooyoung menyingkirkan poni Suzy yang menutup sebagian wajahnya. Setelah itu ia mencium dengan lembut kening Suzy mencurahkan segala kasih sayangnya pada gadis itu.
"Apa yang kalian tadi bicarakan?" tanya Wooyoung.
"Pembuatan video klip Ah yeon eonni, lalu aku dan Jia eonnni menjadi bintang MVnya," jawab Suzy.
"Pekerjaanmu sudah terlalu banyak tapi kenapa Jinyoung hyung masih saja membebanimu," gerutu Wooyoung. Merasa kasihan melihat raut kelelahan di wajah Suzy.
"itu bukan beban oppa, bukankah satu agensi harus saling membantu?" Suzy berucap santai. "Tapi..."
"Sudahlah oppa..." Suzy memotong ucapan Wooyoung dengan tekanan. Wooyoung pun tak melanjutkan gerutuannya ia hanya membelai-belai rambut Suzy saja.
"Maafkan aku..." ucap Wooyoung tiba-tiba saja memecah keheningan. Suzy mendongakan kepalanya menatap Wooyoung heran.
"Untuk apa?"
"Karena aku tidak selalu bisa memberikan pundakku untukmu," ujar Wooyoung lirih. "Jangan seperti itu, aku mengerti bagaimana kita bekerja," ucap Suzy dengan senyuman.
"Andai aku tidak harus bulak-balik Korea-Jepang aku ingin meluangkan sedikit saja waktuku dalam setiap harinya untuk menjadi pundakmu," Wooyoung menghembuskan nafas pelan.
"Tak apa oppa, walau hanya sebentar aku sudah sangat senang," ujar Suzy menggenggam lengan Wooyoung erat. Wooyoung mencium tangan Suzy. "Terima kasih."
"Kita pulang sekarang?"
"Aku masih ingin bersamamu,tapi baiklah," ucap Suzy mendesah kecewa.
"Kau pasti lelah kau harus beristirahat," Wooyoung tersenyum.
"Oppa..."
"Mau jalan?" tawar Wooyoung. Suzy mengangguk tanpa ragu.
"Tentu saja."
Mereka pun berjalan meninggalkan gedung JYP.
"Tunggu dulu!" Seru Wooyoung saat baru beberapa langkah.
"Ada apa?" Wooyoung melepas jaket yang di pakainya lalu memakaikannya pada Suzy.
"Ini akan menjadi perjalanan yang dingin," ujar Wooyoung.
"Terima kasih oppa..."
"Oh ya satu lagi lepas high heelsmu sepertinya itu sangat menyiksa." Wooyoung membunggukan badannya lalu melepas high heels tinggi yang di pakai Suzy. Membuat Suzy menjadi terharu.
"Yasudah ayo berdiri kita lanjutkan perjalanannya!" seru Suzy namun Wooyoung tetap saja berjongkok. "Naiklah ke punggungku!" perintah Wooyoung. Suzy menggeleng.
"Tidak usah."
"Aku tahu kau lelah kau mau jalan karena kau pikir waktu kita bersama akan lebih banyak di bandingkan naik kendaraan, iya kan?" Suzy diam. "Ayo cepat naik!" Suzy pun akhirnya menurut dan naik ke punggung Wooyoung. Membuat namja itu tersenyum puas.
"oppa apa aku berat?" tanya Wooyoung di perjalanan. "Kau lebih berat dari yang kuduga," jawab Wooyoung sambil tersenyum. "Oppa..."
"Ahaha aku bercanda. Lagi pula 2pm adalah beastly idol menggendongmu bukanlah sesuatu yang berarti," ucap Wooyoung sombong.
"Kau bohong!" tukas Suzy. "Buktinya diacara 2pm show kalian sering kelelahan jika sudah harus saling menggendong atau menimpahkan kaki," ujar Suzy.
"Itu berbeda kecuali kalau badanmu sebesar Chansung," canda Wooyoung. Suzy tertawa di buatnya.
Tanpa terasa malam sudah semakin larut merekapun sampai di dorm Miss A. "terima kasih oppa," ucap Suzy, Wopyoung hanya membalas dengan senyuman.
"Suzy ya!" Wooyoung memegang lengan Suzy erat lalu menatap mata gadis itu dalam.
"Apapun yang terjadi aku adalah pundakmu kau hanya boleh menjadikan aku sandaranmu," ujar Wooyoung.
Suzy mengangguk," pasti oppa."
"Tidak di namja lain," lanjut Wooyoung.
"Wae?"
"Aku sudah merasa sangat tidak berguna sebagai kekasihmu jika tempatku sebagai sandaranmu di ambil orang maka apa artinya aku sebagai kekasihmu?" ujar Wooyoung.
"Aku mengerti oppa," Suzy tersenyum lembut.
"Kau kekasih terbaik yang pernah kumiliki!" ujar Suzy. "Saranghae..." Suzy mencium kilat pipi Wooyoung. "Itu hadiah untuk apa yang kau lalukan," lanjutnya.
"Saranghaeyo!" balas Wooyoung seraya tersenyum.

End


Gimana? Tinggalin saran dan kritiknya yah , gomawo yang udah mau baca ({})

Review Drama: The Item, Drama Supranatural yang Bikin Mikir Keras!

Anyeonghaseyo yeorobun! Kali ini aku mau ngereview salah satu drama Korea yang baru aja selesai aku tonton. Btw drama ini baru aja tamat mi...