Rabu, 14 Desember 2016

Salah Masuk Jurusan

Saat ini aku sedang menempuh perkuliahan di Universitas di Banten dengan jurusan yang tekuni adalah Administrasi Negara. Entahlah setelah melewati 3 semester aku mulai merasa bingung dan bimbang dengan program studi yang kuambil. Aku merasa salah masuk jurusan.
Begini pada awalnya aku memilih program studi Administrasi Negara adalah karena aku ingin melanjutkan jurusan yang kuambil saat Sekolah Menengah Kejuruan yakni Administrasi Perkantoran. Tapi sialnya ternyata sekalipun sama-sama ada kata Administrasi-nya, sungguh kedua jurusan itu sangat jauh berbeda.
Jika di Administrasi Perkantoran aku mempelajari bagaimana menjadi seorang sekretaris yang baik, bagaimana mengarsipkan dokumen, mengetik sepuluh jari, menyusun sebuah acara, menyusun rapat, stenografi, menjadi resepsionist dan hal-hal menarik lainnya yang berhubungan dengan administrasi di sebuah perkantoran. Awalnya aku pikir saat memilih jurusan Administrasi Negara aku masih akan mempelajari hal-hal yang sama hanya saja dalam lingkup yang lebih besar yakni negara. Tapi ternyata aku salah besar.
Seharusnya saat mengetahu Administrasi Negara masuk dalam Fakultas Ilmu Sosial dan Politik aku seharusnya mengerti apa yang akan kupelajari. Ya, politik. Sebagian besar mata kuliah yang kuambil membahas mengenai politik. Jujur, itu sangat membuatku pusing dan kesulitan. Bagaimana bisa aku, orang yang tidak begitu mengerti dan menyukai politik harus bergelut dengan kuliah tersebut. Aku kesulitan menerima setiap perkuliahan yang ada, meskipun untungnya aku masih bisa paham jika membaca, tapi jika sudah dalam kelas dan masuk ke dalam diskusi aku merasa orang paling bodoh yang tidak mengerti apa-apa, tidak tahu apa yang sedang di jelaskan ataupun didiskusikan. Aku seperti berada didunia asing yang sama sekali tidak ku mengerti. Aku tidak begitu sering menonton berita, tidak begitu mengikuti perkembangan pemerintahan yang ada, tidak juga memperhatikan isu-isu yang terjadi di negaraku. Sungguh hal yang memalukan bagi seseorang yang sedang menempuh pendidikan di Administrasi Negara.
Aku malu, sangat. Aku takut jika suatu saat aku bertemu orang dan di pertanyakan mengenai apa yang sedang terjadi dalam pemerintahan serta diminta menganalisa aku tidak mengerti apa-apa. Jangan sampai hal itu terjadi.
Sekarang aku ada di penghujung semester 3 tapi entahlah tak banyak yang ku dapat selama perkuliahan berlangsung hanya beberapa saja yang kumengerti. Apalagi ternyata Administrasi Negara bukan hanya mempelajari bidang Politik tapi merambah pada bidang-bidang lainnya, dari mulai Hukum, Manajemen sampai Akuntansi. Aku semakin dibuat bingung. Aku merasa tak ada bidang spesifik yang dipelajari dalam Administrasi Negara.
Hal tersebut seringkali membuatku berpikir akan menjadi apa aku kelak saat sudah menjadi sarjana.  Terlalu banyak bidang yang kupelajari dan terlalu banyak yang tidak ku mengerti. Meski begitu aku tetap berharap kelak ada tempat yang mau menerimaku menampung segala keahlian yang ku miliki.
Aku akui aku salah masuk jurusan. Seharusnya aku berada di jurusan yang lebih spesifik mempelajari apanya, berada di jurusan yang lebih banyak melakukan praktek di bandingkan teori, berada di jurusan yang tidak seberat politik, berada di jurusan yang tidak mengharuskanku untuk berpikir keras meskipun pada nyatanya semuanya pun begitu, tapi setidaknya aku tidak berpikir keras untuk sesuatu yang tidak kusukai mungkin akan lebih menyenangkan. Seandainya saja aku bisa mengulang waktu aku ingin mengambil jurusan Ilmu Psiokologi, Ilmu Komunikasi atau Akuntansi mungkin itu akan lebih baik untukku. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Aku sudah terlanjur masuk kedalamnya jadi yang perlu kulakukan sekarang hanyalah mencoba menyukai jurusan yang sedang ku tempuh, karena katanya kita harus menyukai sesuatu dulu agar kita semangat untuk mempelajarinya, dan itulah yang saat ini kulakukan. Semoga saja lambat laun aku bisa beradaptasi di jurusanku sekarang hingga akhirnya aku tidak menjadi sarjana yang sia-sia. Semoga.

15 Desember 2016
#30DWC Jilid 3 Hari ke 15

Selasa, 13 Desember 2016

Nyctophilia: The Love Of Darkness or Night

 Nyctophilia: The Love Of Darkness or Night

Setelah beberapa hari yang lalu aku sempat membahas mengenai Pluviophile yakni sebutan bagi si pecinta hujan, kali ini aku menemukan istilah baru dalam dunia psikolohi yakni Nyctophilia. Apa sih Nyctophilia? Ada yang pernah denger, damn yaa kata ini ngingetin aku sama sahabatku, Philia, I miss you so much guys. Okey Skip! Jadi dari yang saya temukan berdasarkan hasil pencarian di google, Nyctophilia itu artinya The Love Of Darkness or Night, finding relaxation or comfort in darkness. Simplenya sih seseorang yang menyukai kegelapan atau malam hari. Like kelelawar gitu lah ya, tapi bukan kupu-kupu malam. Hihi.
Jadi buat kalian yang menyukai kegelapan ataupun malam bisa banget tuh disebut Nyctophilia. Jika kebanyakan orang merasa takut akan kegelapan hal ini akan berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan oleh Nyctophilia, mereka akan menemukan ketenangan, bahkan merasa nyaman dalam keadaan gelap dan malam hari.
Aku sendiri menyukai gelap, tapi tidak gulita, aku menyukai kegelapan tapi masih ada sedikit pencahayaan. Aku juga cukup menyukai malam hari, dimana kondisi sepi dan sunyi jauh dari kebisingan. Dulu saat aku masih duduk di bangku sekolah aku memang tidak pernah tidur larut, aku terbiasa tidur dibawah jam 11. Namun semenjak aku duduk di bangku kuliah ngekost aku terbiasa untuk tidur di atas jam 12. Entahlah, memang benar jika saat malam seperti itu aku dapat menemukan ketenangan. Ketenangan itulah yang bisa membuatku  fokus belajar. Coba saja belajar pada waktu tengah malam apa yang kita pelajari akan mudah masuk ke dalam otak, itu sih yang aku rasakan entah dengan yang lain. Selain itu  saat tengah malam juga bisa banget dijadikan waktu untuk menulis, karena percaya atau tidak ide-ide mendadak muncul dan berjalan lancar pada waktu-waktu seperti. Aku bahkan menyelesaikan sebagian dari Novel Boy In Luv dan tulisan-tulisan lainnya yang ku buat pada waktu tengah malam. Meski resikonya harus menahan kantuk selama perkuliahan berlangsung di siang hari.
Selain itu saat tidur pun aku lebih menyukai lampu dimatikan, karena entahlah mungkin ini terdengar aneh karena menurutku saat gelap aku tak akan bisa melihat makhluk gaib, serius aku mempunyai pikiran seperti itu, karena dengan gelap penglihatan kita menjadi terbatas berbeda dengan saat terang.
Entahlah apa aku bisa disebut Nyctophilia atau tidak, yang jelas malam hari bisa menjadi waktu yang pas untuk menciptakan karya-karya tulisan yang ku buat.
Kamu menyukai kegelapan atau malam hari, merasa tenang dan nyaman bersamanya? Mungkin kamu adalah seorang Nyctophilia.

14 Desember 2016
#30DWC Jilid 3 Hari ke 14

Senin, 12 Desember 2016

0rang Ke-3



Orang Ke-3
            Bukan cinta tapi sayang, bukan sayang tapi peduli, bukan peduli karena memang tidak seharusnya. Entah berapa banyak bukan lagi yang harus terucap yang jelas kisah ini milik kita- Aku, Kau, dan Dia.

            Kita bersama tapi tak bisa bersatu. Kita berdua namun tak dapat saling mengikat. Kita seharusnya sudah ada dalam suatu hubungan yang beratasnamakan cinta. Namun bagaimana bisa? Sementara masih ada Dia diantara Kita.
            Ya dia, seseorang yang tak dapat disalahkan dalam kisah ini. Karena bagaimanapun dia adalah korban yang tersakiti disini, dan kitalah- Kau dan Aku orang yang sangat patut di persalahkan atas luka yang ada. Luka-nya. Luka-mu. Juga Luka-ku.
            Tidak, jangan salah paham dulu. Jangan mulai berpikiran aneh-aneh tentangku. Orang Ke-3? Aku? Mungkin kalian berpikir begitu. Aku disini yang menjadi orang Ke-3, bukan Kau ataupun Dia. Aku yang mendapatkan predikat buruk itu, aku si tokoh antagonis itu. Tapi tidak sungguh aku tidak sejahat itu. Biar kujelaskan bagaimana kisah ini berawal.
            Kita adalah teman lama yang di pertemukan pada kondisi yang tidak seharusnya. Kau, saat itu sedang merasa terabaikan oleh kekasihmu, dan aku sedang berusaha untuk Move On dari seseorang yang baru saja mematahkan hatiku. Kita sama-sama sedang membutuhkan ‘bahu’ untuk berbagi, dan begitulah semuanya terjadi. Bersamaku kau merasa tak terabaikan lagi. Bersamamu aku berhasil melupakannya. Namun sayangnya kebersamaan itu membuat kita lupa akan satu hal, ini tentang Dia.
Dia yang masih terikat pada sebuah hubungan denganmu, dia yang bagaimanapun telah mengabaikanmu masih bisa kau prioritaskan. Aku mengerti. Aku paham. Kau tidak pernah bisa benar-benar lepas darinya, sekalipun kau juga mengatakan bahwa kau mulai mencintaku, kau nyaman bersamaku, dan kau tak ingin berpisah denganku. Berpisah? Hey, kita bahkan tak pantas untuk bersatu bukan?
            Ku akui aku egois saat itu, dengan bodohnya aku memintamu untuk meninggalkannya agar bisa bersamaku. Tapi kau, kau memang datang padanya tapi kau bahkan tak mampu untuk sekedar mengatakan ‘putus’, kau tak tega untuk menyakitinya, kau masih terlalu mencintainya sampai tak mampu untuk melepaskannya sekalipun aku berjanji untuk menjadi penggantinya. Maaf, aku memang jahat. Aku menginginkan sesuatu yang tidak seharusnya.
            Kau tak bisa memilih. Kau masih bersamanya namun tak mampu melepaskanku juga. Dia yang pertama dan aku yang kedua. Dia kekasihmu di mata semua orang, tapi setiap malam kau pun mengatakan cinta kepadaku. Sedangkan aku? Aku orang munafik yang terlalu percaya diri. Aku terlalu percaya bahwa cintamu kepadaku suatu saat nanti akan lebih besar dibandingkan cintamu kepadanya. Aku tersenyum dengan segala sikap manismu kepadaku, aku selalu meluangkan waktuku untukmu, aku bersedia selalu ada dalam setiap kondisi bagimu. Aku memprioritaskanmu tapi kau? Nyatanya tidak.
            It’s hard you know?
            Waking up and realizing that you were my always but I was only your sometimes. And that’s the real tragedy here, like bullets tearing up my heart.
            Jangan pernah berpikir Orang ke-3 itu jahat jika kalian tak pernah benar-benar berada di posisinya. Serius, menjadi yang ke-3 sungguh menyakitkan. Kau tahu dia mencintaimu, tapi kau tak pernah bisa memilikinya seutuhnya. Kau tahu dia ada untukmu namun kau harus bersabar saat dia tiba-tiba pergi untuk dengan-nya.  Kau bahagia bisa bersamanya namun kau juga harus sadar disana entah dibagian mana ada seseorag yang sedang menunggunya, percaya akan cintanya, sama sepertimu. Dan kau pada akhirnya hanya harus mengerti bahwa kau adalah yang kedua, karena bagaimanapun dialah yang pertama. Sakit? Tentu, itulah yang kami rasakan. Orang Ke-3, seseorang yang kalian bilang perusak hubungan orang. Tapi percayalah, kami masih punya hati.
            Sekali lagi, aku memintamu memilih antara aku atau dia, dan lagi-lagi kau tak bisa menentukan. Aku tak bisa terus-terusan berada diantara hubungan Kau dan Dia. Aku lelah, dan aku ingin kau melepaskanku, tapi apa jawabmu kau bilang kau tidak ingin menyakitiku, lalu apa kau tega menyakitinya? Tidak, kau hanya diam namun aku tahu kau tidak akan pernah tega menyakitinya. Namun kau tahukan hidup adalah sebuah pilihan? Jika kau memang tidak bisa melepaskan, maka biarkan aku yang pergi, karena bagaimanapun menjadi yang ke-3 akan selalu disalahkan dan aku tidak ingin menjadi alasan dari setiap kesalahan yang ada.
            Biarkan aku menyingkir dari Kita: Kau dan Dia.

12 Desember 2016
#30DWC Jilid 3 Hari ke-12

Minggu, 11 Desember 2016

Teruntuk Hati Yang Mudah Patah



Teruntuk hati yang mudah patah
Kau seharusnya mencinta, bukan jatuh cinta
Karena segala yang jatuh pasti mendapatkan sakit
Teruntuk hati yang mudah patah
Tak apa-apa jika merindu, namun jangan terlalu
Kau tahu kan obatnya hanya bertemu?
Teruntuk hati yang mudah patah
Bisakah bertoleransi dengan waktu?
Lain kali datangkan rasa pada waktu yang tepat
Tanpa ada kata terlambat
Teruntuk hati yang mudah patah
Bekerjasamalah dengan logika
Jika dia memang tak benar, maka jangan mencinta
Teruntuk hati yang mudah patah
Janganlah merasa sendiri
Tubuh ini bukan hanya tentangmu
Teruntuk hati yang mudah patah
Jangan memilih dia yang tak pantas
Karena ujungnya kau yang akan terlukakan?
Teruntuk hati yang mudah patah
Maaf telah selalu disalahkan
Atas rasa sakit yang ada
Teruntuk hati yang mudah patah
Aku mencintaimu
Mulai sekarang aku berhenti mencintainya
Teruntuk hati yang mudah patah
Aku akan menjagamu
Jadi bersabarlah, ayo sembuhkan luka bersama
 11 Desember 2016
#30DWC Jilid 3 hari ke 11

Sabtu, 10 Desember 2016

Mana yang lebih dulu Data atau Informasi



Mana yang lebih dulu, Data atau Informasi?

            Diskusi ini terjadi pada hari Jum’at, 4 November 2016. Pagi itu seperti biasa pukul 08.00 saya bersama teman-teman yang lain ada kelas di Mata Kuliah Sistem Informasi Manajemen. Untuk perkuliahan kali itu kita dibuat bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh dosen saya mengenai Data atau Informasi mana yang lebih dulu? Hal itu cukup menjadikan diskusi yang panjang.
            Berbagai pendapat dilontarkan pada waktu itu. Ada yang mengatakan bahwa data ada lebih dulu baru informasi, ada juga yang mengatakan bahwa informasilah yang lebih dulu ada dibandingkan data.
            Menurut beberapa orang data ada lebih dulu dari informasi karena kita mendapatkan informasi dari data yang kita lihat. Seperti misalnya ketika kita diminta untuk membuat makalah mengenai sesuatu, kita harus mencari data terlebih dahulu ke sebuah instansi atau tempat yang memang dapat berguna dalam proses pembuatan makalah. Selain itu untuk berita atau informasi yang disiarkan ditelivisi maupun ada dalam Koran dan majalah itu semua berasal dari data.
            Sedangkan menurut pendapat beberapa orang yang mengatakan informasi ada lebih dulu di bandingkan data hal itu dikarenakan menurutnya data tercipta atau berasal dari informasi yang kita dapatkan sebelumnya. Menurut pendapat lainnya informasi diolah terlebih dahulu sebelum akhirnya menjadi data.
            Diskusi kali itu cukup memakan waktu panjang karena setiap orang bersikukuh dengan pendapatnya masing-masing. Bahkan menurut beberapa orang mendiskusikan ini sama sulitnya dengan mencari tahu mana yang lebih dulu ayam atau telur.
            Hingga akhirnya setelah pedebatan yang cukup panjang sang dosen pun memberitahukan kebenarannya. Jadi jika ditanya mana yang lebih dulu data atau informasi maka jawabannya adalah data. Karena data merupakan informasi yang belum di olah. Bagi seseorang yang tidak mengetahui kegunaan data mungkin yang melihat data tak akan mengerti dan menganggap itu hanyalah kumpulan dari huruf dan angka-angka yang tidak penting. Namun bagi mereka yang mengerti bisa saja data tersebut merupakan informasi yang sangat penting. Sebelum mendapatkan informasi kita harus mencari data terlebih dshulu.
            Jadi berdasarkan diskusi tersebut dapat disimpulkan bahwa data ada lebih dulu dibandingkan informasi.

10 Desember 2016
#30DWC Jilid 3 hari ke 10

Jumat, 09 Desember 2016

Seharusnya Aku Baik-Baik Saja



Seharusnya Aku Baik-Baik Saja

            Dahulu sebelum hari ini pun, aku baik-baik saja tanpa dirimu. Aku terbiasa hidup dengan kesendirianku, aku terbiasa berjalan tanpa ada seseorang di sampingku, aku terbiasa menyimpan keluh kesahku sendiri. Tapi kenapa sekarang semuanya menjadi begini?
            Semenjak kau mendadak masuk ke dalam hidupku, semenjak kau tiba-tiba saja mulai mengisi hari-hariku. Entahlah aku dengan mudahnya dibuat tertawa oleh hal-hal kecil yang kau lakukan. Aku dibuat rindu hanya karena tak bertemu denganmu beberapa waktu. Kau menawarkan sejuta harapan di hidupku yang sepi. Tanpa pernah ku sadari aku sudah dibuat jatuh pada cinta yang entah bagaimana mulai ku berikan padamu.
            Kita mulai bersama, menghabiskan waktu tanpa tahu batas. Saling berbagi memberikan bahu satu sama lain. Menjadi tempat ternyaman untuk di jadikan rumah saat lelah mulai mendera. Kita, kau dan aku menjadi teramat dekat. Saling membutuhkan, saling merindu dan saling mencinta. Semuanya terasa indah pada waktu itu yang ku pikir akan bertahan lama bahkan abadi.
            Namun nyatanya semuanya tak semudah itu, semuanya seperti hubungan pada umumnya manis di awal sebelum akhirnya menciptakan pahir untuk akhir yang tragis. Semakin lama semuanya semakin tak sama, Sikapmu perlahan-lahan mulai berubah. Kau menjauh tanpa ku sadari. Kau menjadi sulit untuk sekedar dihubungan, kau menjadi sibuk sampai tak sempat untuk sekedar menghubungiku. Kau bahkan sempat menghilang tanpa pernah memberikan alasan yang jelas. Sementara aku? Aku dibuatmu khawatir, aku memikirkan bagaimana keadaanmu, aku memikirkan apa yang terjadi padamu, yang jelas aku amat sangat mengkhawatirkanmu.
            Sayangnya kekhawatiranku tak beralasan, aku hanya terlalu mencinta sampai merasa seperti itu. Sementara kau sedang baik-baik saja, kau hanya sudah tak seperti dulu lagi. Entah bagaimana yang ku tahu kau sudah tak mencintaku seperti dulu lagi.
            Kau pergi semakin jauh, semakin tak terjangkau, sampai aku tak mampu lagi untuk menggapaimu. Sejak saat itu ku akui aku telah kehilanganmu.
            Hidupku yang sudah terbiasa denganmu perlahan menjadi tak biasa lagi. Aku kembali sendiri, aku kembali menyimpan rasaku dalam hati, aku tak memiliki tempat untuk berbagi, aku kembali seperti dulu seperti saat aku belum bertemu denganmu. Semuanya sama seperti dulu, yang berubah hanyalah aku tak dapat menjalani hidupku dengan baik-baik saja tanpa dirimu. Tidak seharusnya.
            Aku merasa kesepian, aku didera rindu, disakiti luka dan selalu ingin menangisinya. Hidupku perlahan-lahan memudar sampai akhirnya menghitam. Aku tidak tahu kapan jelasnya yang pasti aku seakan mati dalam hidupku sendiri. Aku benci. Aku benci seperti ini. Aku benci diriku yang tak bisa kembali seperti dulu.
            Seharusnya aku baik-baik saja tanpamu. Seharusnya aku baik-baik saja meski harus sendiri. Seharusnya aku baik-baik saja meski kesepian. Seharusnya aku baik-baik saja dalam hidupku dengan ataupun tanpa dirimu. Karena dulu sebelum kau hadir dan mengusik hidupku, menemaniku, membuatku tertawa, memberi bahagia, menawarkan harapan kenyamanan, aku baik-baik saja. Karena memang seharusnya dengan ataupun tanpa dirimu aku baik-baik saja. Namun sayangnya semuanya tak lagi sama, kini hal itu hanya bisa menjadi seharusnya.

09 Desember 2016
#30DWC Jilid 3 hari ke 9

Review Drama: The Item, Drama Supranatural yang Bikin Mikir Keras!

Anyeonghaseyo yeorobun! Kali ini aku mau ngereview salah satu drama Korea yang baru aja selesai aku tonton. Btw drama ini baru aja tamat mi...